Cerpen

Wanita dalam Sebuah Foto

AGUSTIAN merasa begitu lelah setelah seharian memindahkan barang – barangnya dari tempat tinggal yang lama

Alis Agustian bertaut, “ Foto? Apakah foto hitam putih seorang wanita yang bapak maksudkan? “ Pak Mirza mengangguk, “ Iya,betul dik. “ Agustian menatap bola mata pak irza dalam - dalam dan bertanya lagi, “ Kalau boleh saya tahu, siapa wanita alam foto itu, pak? “ Pak Mirza menyunggingkan senyuman, “ Wanita itu adalah ibu saya. Itu foto waktu beliau memperoleh mendali Perunggu untuk cabang olah raga tenis meja pada kegiatan Pekan Olah Raga Nasional. Itu foto yang paling berkesan bagi beliau.

Makanya saya diminta untuk mengambilnya sekarang. “ Agustian masih belum percaya dengan ucapan yang dikatan pak Mirza barusan. Seminggu lalu dia telah menebak bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah seorang pembunuh. Bahkan, semenit sebelum pak Mirza berkunjung ke rumahnya pun, Agus belum merubah penilaiannya itu.

Namun kini ia dibikin terkejut. Wanita itu adalah ibu pak Mirza yang tak lain pemilik rumah yang sekarang ia sewa. Seorang mantan atlit tenis meja yang pernah berjaya di tahun enam puluhan. “ Inikah foto ibu anda, pak? “ tanya Agustian setelah menyerahkan foto berbingkai kayu itu kepada pak Mirza. “ Iya, dik Agus, “ jawab pak Mirza tenang. “ Dialah ibu saya. “ Agustian menelan ludah. Ia amati lagi foto yang kini ada di tangan lelaki paruh baya itu. Tatapan mata itu, ya... tatapan mata yang tajam itu bukanlah tatapan seorang yang bengis atau kejam seperti penilaiannya selama ini. Tapi tatapan seorang pemenang.

Tatapan seorang yang optimis dan penuh percaya diri. Lalu senyum yang menghiasi wajahnya, bukanlah senyuman sinis seperti pendapatnya dahulu. Melainkan sebuah senyum kebahagiaan. Senyum peraih mendali Perunggu! Agustian terduduk di kursi rotannya. Ia menyadari telah keliru menilai seseorang.

Bagaimana bisa ia terlalu cepat menilai foto istri pak Wahyusebagai seorang pembunuh. Seorang detektif profesional pun mungkin tak segampang itu menebak seseorang, apalagi dirinya yang hanya berprofesi sebagai pegawai kantor pos. Agustian enghela nafas. Hatinya kini lega. Rasa takut yang selama ini menghantui kemana pun ia pergi seketika lenyap. Tidak ada lagi bayang – bayang pembunuh di rumahnya kini. Segera ia merogoh ponsel untuk menelepon Rusli. Agustian membeberkan kisah pertemuannya dengan pak Mirza. Diujung sana Rusli pun berkata: “ Makanya Gus, jangan pernah lagi menilai orang dari fotonya.” Ya, betul sekali apa yang dikatakan Rusli. Jangan pernah menilai seseorang dari fotonya.

* Dina Triani GA, cerpenis tinggal di Banda Aceh

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved