Opini

Aceh dan Aurat Putri Kecantikan

TAK dapat disangkal, tidak sedikit dari orang Aceh yang tak perduli lagi pada aurat

Menjawab sejumlah pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya, Flavia mengatakan bahwa orang tuanya berasal dari Jawa Timur. Ibunya berasal dari Surabaya dan ayahnya dari Kediri dan ia merupakan alumnus SMA 4 Surabaya. Nama Flavia Celly Jatmiko mendadak banyak dibicarakan di media sosial akibat kiprahnya di ajang Miss Indonesia 2016. Hal ini terutama karena Flavia Celly Jatmiko dipandang tidak memiliki latar belakang berasal dari Aceh, baik asal daerah maupun riwayatnya tidak pernah tinggal di Aceh. Hasil penelusuran Aktualita.Co di laman resmi Miss Indonesia, Flavia Celly Jatmiko merupakan dara kelahiran Surabaya, 10 Agustus 1994.

Menegur keras
Lalu bagaimana tanggapan wakil rakyat Aceh di parlemen? Anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman menegur keras pengelenggaraan kontes Miss Indonesia dan Putri Indonesia 2016. Pasalnya, seorang kontestan Miss Indonesia 2016, Flavia Celly Jatmiko mengatakan bahwa ia mewakili Aceh. “Ini jelas-jelas merugikan dan merendahkan martabat orang Aceh yang menjunjung tinggi asas serta nilai syariat Islam. Oleh karena itu, saya menegur keras penyelenggaraan ajang pemilihan Miss Indonesia 2016, atas pencatutan Flavelia Celly Jatmiko atas nama utusan Aceh,” katanya kepada mediaaceh.co.

Menurutnya, teguran berupa surat akan dilayangkan kepada tim manajemen dan pantia ajang pemilihan Miss Indonesia 2016. Senator Aceh yang akrab disapa Haji Uma ini sebelumnya juga sudah membicarakan masalah pencatutan ini dengan Anggota DPD Komite III asal Jawa Timur, Hj Emilia Contessa saat melakukan kunjungan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. “Kemarin, waktu di Banjarmasin saya sudah membicarakan masalah ini. Alhamdulillah beliau (Hj Emilia Contessa) merespons baik usulan saya dan menyesalkan pencatutan nama Aceh tersebut,” kata Sudirman.

Sebenarnya persoalan substansial bukan saja pada pencatutan nama suatu daerah oleh pihak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan daerah tersebut seperti dalam kasus pemilihan Miss Indonesia 2016 ini. Kegiatan Miss Indonesia itu sendiri sejak awal terselenggara juga menimbulkan masalah, terutama dengan tata susila, norma dan ajaran agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Ajang pemilihan semacam ini tidak relevan dengan budaya Indonesia, konon lagi dari segi nilai-nilai keagamaan.

Seorang putri Indonesia sejatinya bukan dilihat pada kesempurnaan tubuhnya semata, melainkan pada kepribadiannya yang menjunjung tinggi harkat dan martabat dirinya sebagai seorang perempuan Indonesia sejati. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang dengan kiprahnya memberikan sesuatu yang positif bagi bangsanya, dimana dengan kapasitas keilmuan dan ketrampilan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk mengabdikan diri dan membangun Indonesia menjadi lebih bermartabat, berdasarkan ajaran agama dan budaya Indonesia yang memuliakan perempuan. Semoga!

* Muhibuddin Hanafiah, Dosen Fakultas Terbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: ibnu_hanafi70@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved