Salam

Anti Kontes-kontesan, Juga untuk Cegah LGBT

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal bersama jajarannya membubarkan acara kontes model

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal bersama jajarannya membubarkan acara kontes model pria dan wanita yang berlangsung di Hotel Grand Nanggroe. Selain tak berizin, acara itu juga tidak sesuai dengan kultur Aceh yang islami.

“Jangankan izin, pemberitahuan saja tidak ada disampaikan ke kami. Jadi, kami tidak tahu sama sekali ada even itu di Hotel Grand Nanggroe,” tegas Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli SStMk SH. Menurutnya, izin keramaian untuk suatu even, apakah dilaksanakan indoor atau outdoor seharusnya mengantongi izin dari kepolisian, minimal pemberitahuan ke polsek setempat, bila berlangsung di dalam hotel.

Sedangkan Wali Kota dalam emosi yang tinggi mengatakan, “Acara ini tidak mengantongi izin dari pemerintah dan melanggar syariat Islam. Harus dihentikan.” Para penyelenggara dan model pun diboyong ke Balai Kota untuk berurusan dengan Satpol PP dan Wilayatul Hisbah.

Yang mengagetkan, penggerebekan acara bertajuk “Indonesian Model Hunt 2016” itu terjadi di tengah gencarnya upaya kalangan muda Aceh menggalang petisi untuk memprotes Yayasan Miss Indonesia. Dalam kontes Miss Indonesia 2016, ada seorang wanita asal Surabaya, Jawa Timur, bernama Flavia Celly, mengklaim diri sebagai utusan Aceh. Selain, bukan anak Aceh, wanita seksi itu juga tidak tampil islami di even itu. Itulah yang mengundang protes keras dari masyarakat Aceh.

Tentang kontes model yang dibubarkan Bu Wali Kota itu memang sangat memprihatinkan. Rekruitmen peserta yang jumlahnya hampir mencapai 100 muda mudi itu, bukan saja berlangsung diam-diam, tapi juga sebagian di antaranya tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

Di antara tes yang sangat menyinggung perasaan keacehan kita adalah, para peserta diminta berlenggak lenggok di atas catwalk dengan pakaian yang memamerkan sebagian aurat. Pertanyaan kita, kalau mencari model di Aceh, mestinya mereka tahu bahwa kekhasan daerah ini. Masyarakat Aceh pasti akan sangat menerima jika yang dicari adalah para model untuk pakain muslim. Bukan pakaian yang jelas-jelas memamerkan aurat.

Dan, kita sangat setuju, bahwa acara perburuan model itu juga sangat potensial kian berkembangnya aktivitas kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) yang sedang secara serius kita perangi bersama. Sebab, di mana-mana, setiap ada kontes semacam itu, maka ada “pria melambai” atau pria-pria berpenampilan wanita di baliknya. “Kita perlu tingkatkan kewaspadaan agar generasi muda Aceh tidak terpengaruh itu. Tapi yang jelas kegiatan tadi dibubarkan karena tak miliki izin dan tidak islami,” kata Bu Wali Kota.

Ya, kita sependapat bahwa Aceh harus menutup rapat-rapat penggelaran acara-acara yang tidak sesuai dengan kultur kita. Apalagi yang berlangsung sembunyi-sembunyi.

Selain itu, fenomena kontes-kontesan serta kampanye anti LGBT harus menjadi perhatian serius orang tua agar anak-anak tidak terjerumus dalam dunia beraktivitas menyimpang dari agama dan budaya. Bahkan, jika tak serius mengawasi, bukan tak mungkin anak-anak berusia belia menjadi korban perdagangan manusia. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved