Breaking News:

Awalnya Cabut Gigi, Ainun Terpaksa Dioperasi

Nur Ainun, pasien yang dicabut giginya di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Johan Pahlawan

Editor: bakri

MEULABOH - Nur Ainun, pasien yang dicabut giginya di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat, Senin (29/2) siang mengeluh, karena terpaksa harus menjalani operasi gigi setelah salah satu bagian giginya yang dicabut di Puskesmas itu tertinggal di dalam gusi.

Akibatnya, pasien yang berobat menggunakan Askes tersebut mengeluh sakit karena bagian gigi yang tersisa tak bisa lagi dicabut. Dokter yang mencabut giginya justru menyerah untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Sementara itu, Erna Martha, dokter gigi yang bertugas di Puskesmas Johan Pahlawan, Meulaboh yang dikonfirmasi Serambi, Kamis (3/3) siang di kantornya mengaku tidak ingin memberikan keterangan pers kepada media terkait persoalan ini.

“Harusnya kalau tak mampu ditangani, maka dirujuk saja ke rumah sakit supaya pasien tidak jera dan kesakitan seperti ini,” keluh Ainun, warga Seuneubok, Meulaboh, kepada Serambi, Senin siang.

Menurut Ainun, sebelum giginya dicabut, dokter gigi yang menanganinya lebih dulu menyuntikkan obat penghilang rasa sakit di bagian giginya. Ini sesuai dengan prosedur tindakan pencabutan gigi. Tapi lima menit berselang, sang dokter langsung mencabut giginya, meski saat itu ia belum merasa kebas atau belum dalam keadaan terbius lokal.

“Saya kesakitan, karena gigi saya dicabut saat obat bius yang disuntikkan ke gusi saya belum bekerja. Celakanya lagi, karena tak sanggup menahan rasa sakit, gigi saya tak tercabut seutuhnya. Bagian akarnya masih tertinggal di dalam gusi, sehingga sangat mengganggu kenyamanan gigi dan mulut saya,” cerita Ainun.

Menurut Ainun, ia juga sudah meminta untuk dirujuk segera ke rumah sakit karena tak sanggup menanggung rasa sakit. “Tapi dokter tersebut menolak dengan alasan rujukan harus dilakukan bulan depan, sesuai dengan prosedur baku untuk pasien rujuk. Begitu alasan si dokter saat itu,” kata Ainun.

Ia menegaskan tak ingin diperlakukan sebagai kelinci percobaan oleh si dokter gigi. “Kalau tak mampu menangani pasien, mengapa berani mencabut gigi saya, sehingga saya kesakitan seperti ini,” keluhnya.

Sementara itu, Serambi yang mencoba menelusuri persoalan ini di Puskesmas Johan Pahlawan dari sumber terpercaya menyebutkan, layanan cabut gigi di pusat kesehatan milik pemerintah daerah tersebut sangat dikeluhkan warga yang berobat.

Selain banyaknya pasien yang mengeluh karena kerap tertinggal sisa gigi di dalam gusi, layanan suntik tetanus dan pelayanan kesehatan lainnya juga dikeluhkan karena diduga dilakukan asal-asalan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved