Sabtu, 25 April 2026

Padi Ciherang tak Dianjurkan Lagi Ditanam

Data dua tahun lalu, Ciherang yang sudah berumur 15 tahun lebih sejak dilepaskan Mentan ke petani masih dominan ditanam petani,

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Fatimah
google.com
Ilustrasi 

Laporan Yarmen Dinamika I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Padi varietas Ciherang yang dilepas Menteri Pertanian (Mentan) RI pada tahun 2000 kini tak lagi dianjurkan untuk ditanam petani di Indonesia, termasuk di Aceh. Penyebabnya adalah karena dalam beberapa tahun terakhir mulai terindikasi bahwa varietas ini terkena gejala kresek (hawar daun bakteri), sehingga produktivitasnya menurun sampai 50 persen, bahkan ada yang gagal panen.

Data dua tahun lalu, Ciherang yang sudah berumur 15 tahun lebih sejak dilepaskan Mentan ke petani masih dominan ditanam petani, tak terkecuali di Aceh, dibandingkan beberapa varietas unggul lainnya karena berproduksi tinggi, yakni mencapai 8,5 ton/ha dan rasa nasinya pun enak. "Namun, setahun terakhir varietas Ciherang ini dilaporkan bermasalah karena rentan serangan blast dan bakteri hawar daun atau kresek," kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Ir Basri A Bakar MSi kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Selasa (15/3) pagi.

Tujuan Basri A Bakar menyampaikan hal itu kepada Serambinews.com adalah untuk mengingatkan para petani di Aceh yang akan turun ke sawah pada musim tanam gadu (MTG) mendatang.

Dia terangkan bahwa penyakit kresek atau hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae. "Patogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman, dari mulai pesemaian sampai menjelang panen," ujarnya.

Basri menyebutkan, akhir-akhir ini banyak penyuluh dan petani yang menghubungi BPTP Aceh. Mereka melaporkan kondisi padi yang terkena penyakit dan yang terbanyak adalah varietas Ciherang. Oleh karena itu, sebagai pengganti Ciherang, Badan Litbang Pertanian telah merilis beberapa varietas unggul seperti Inpari 13, Inpari 16, Inpari 31, Inpari 32, Situ Bagendit, dan lain-lain.

Dalam upaya menyukseskan program nasional swasembada berkelanjutan, tahun ini Aceh ditargetkan memproduksi gabah 2,55 juta ton. Sedangkan capaian tahun lalu 2,38 juta ton. Strategi untuk mencapai target tersebut, antara lain, melalui introduksi benih unggul, teknik penanaman, pemupukan berimbang, pengendalian hama penyakit, dan memperkuat sistem penyuluhan kepada petani.

Menurut Basri, sistem tanam dengan jajar legowo (orang Aceh menyebutnya jurong -red) 2:1 yang dipopulerkan BPTP Aceh terbukti efektif meningkatkan produksi sekitar 20-25 persen. "Dengan jajar legowo, selain populasi tanaman mencapai 333.333 rumpun per hektare juga memudahkan dalam penyiangan gulma, pengendalian hama penyakit, dan pemupukan," demikian Basri A Bakar. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved