Masyarakat Singkil Gelar Seminar Perikanan

Ratusan Masyarakat Aceh Singkil di Banda Aceh, Minggu (20/3) memperingati

BANDA ACEH - Ratusan Masyarakat Aceh Singkil di Banda Aceh, Minggu (20/3) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan seminar perikanan di Hotel Lading, Banda Aceh. Kegiatan tersebut diawali dengan ceramah maulid yang disampaikan Ustaz T Lembong, yang juga dosen UIN Ar-Raniry. Acara itu diikuti sejumlah tokoh dan ratusan masyarakat Aceh Singkil yang ada di Banda Aceh.

Seminar yang bertema “Pembangunan Masyarakat Nelayan Perikanan dan Kelautan” diadakan setelah ceramah maulid. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara yaitu, Dr Damanhuri Basyir, Wakil Ketua DPRA, T Irwan Djohan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, Ir T Diauddin, Wakil Ketua DPRK Aceh Singkil, Yulihardin SAg, Kepala DKP Aceh Singkil, Ir Ismed Taufik, dan Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Seminar tersebut dipandu moderator, T Lembong. Pembicara pertama, Dr Damanhuri Basyir menyampaikan materi seputar nilai peringatan maulid terhadap kesejahteraan masyarakat Singkil. Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad harus dicontoh oleh para pemimpin di Singkil, agar kesejahteraan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Sumber daya manusia (SDM) Singkil terutama di bidang perikanan juga harus ditingkatkan untuk kemajuan daerah. Sebab Aceh Singkil adalah daerah yang kaya hasil laut, yang selama ini dijarah dan dinikmati hasilnya oleh masyarakat luar,” ujar Damanhuri.

Dia menceritakan kisahnya saat masih berstatus siswa SMA, melihat langsung pengeboman ikan yang dilakukan orang tak bertanggung jawab. “Saya pernah menyaksikan sendiri berton-ton ikan mati mengapung karena bom ikan. Hal yang saya lihat puluhan tahun lalu itu masih juga terjadi saat ini di Pulau Banyak,” ungkapnya.

Ir Ismed Taufik yang menjabat Kepala DKP Aceh Singkil menyorot soal pelarangan kapal asing yang masuk ke perairan Singkil. Menurutnya, kebijakan tersebut memiliki sisi positif dan negatif bagi Aceh Singkil. “Peraturan menteri Susi yang melarang kapal asing masuk singkil punya dua sisi. Memang dapat meminimalisir penjarahan hasil laut, namun perlu diketahui bahwa sebagian besar yang masuk itu kapal buyer, yaitu kapal asing yang membeli ikan-ikan Singkil,” kata dia.

Sementara itu, Kepala DKP Aceh, Ir Diauddin mengatakan, bahwa potensi laut Singkil sangat besar. Dia mengatakan, pihaknya telah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk meningkatkan hasil laut Singkil melalui pemberdayaan nelayan dan penambahan fasilitas dan perlengkapan melaut. “Namun semua itu tak akan berarti tanpa pengawasan yang ketat. Koordinasi panglima laot dan aparat keamanan kita sangat dibutuhkan, agar penjarahan yang dilakukan pihak asing dapat ditekan,” jelas Diauddin.

Wakil Ketua DPRK Aceh Singkil, Yulihardin SAg mengatakan, kurangnya pengetahuan masyarakat setempat menyebabkan bantuan yang diberikan tidak optimal. “Banyak masyarakat yang tidak mengerti penggunaan GPS (Global Positioning System/alat pendeteksi lokasi). Bahkan banyak bantuan GPS yang diberikan ke masyarakat itu malah dijual,” kata dia.

Sedangkan Wakil Ketua DPRA T Irwan Djohan bersama Anggota DPRA asal Singkil, Muhammad Saleh mengatakan, komunikasi yang intens antara pemerintah kabupaten dan DPRA sangat diperlukan agar program perikanan di Singkil berjalan baik. T Irwan Djohan juga mengapresiasi mahasiswa asal Aceh Singkil yang telah mengadakan acara maulid dan seminar itu, karena bermanfaat bagi semua pihak.

Adapun pembicara terakhir, Yarmen Dinamika mengungkapkan fakta unik yaitu pencurian ikan (illegal fishing) di perairan Singkil kerap dilakukan pada hari libur nelayan lokal, khususnya hari Jumat dan hari besar Islam. “Sampai saat ini kita belum punya teknologi untuk membuat masjid di tengah laut. Jika bisa, tentu illegal fishing akan menurun drastis,” ujar Yarmen disambut tawa hadirin.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved