Opini

Ketika Air Menjadi Komoditas Tambang

KINI, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi air minum dalam kemasan

Oleh Wintah

KINI, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK), mulai kemasan galon, botol sampai gelas plastik. Setiap tahun jumlah konsumsi AMDK terus meningkat, seiring dengan penjualannya yang juga terus meningkat. Sebagai contoh, penjualan AMDK mencapai 24 miliar liter pada 2014, meningkat 11% dari realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah 22,5 miliar liter. Namun faktanya kini perusahaan-perusahaan AMDK di dalam negeri sudah dimiliki perusahaan asing.

Menurut Hendro Baroeno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), sebagian besar produk AMDK yang beredar di pasaran Nasional telah dikelola dan dimiliki perusahaan asing. Pesatnya perkembangan perusahaan AMDK membuat perusahaan daerah air minum (PDAM) tak dapat bersaing dengan perusahaan air minum swasta. Hal ini dikarenakan PDAM dianggap belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih di Indonesia. Jadi bukan hanya soal kualitas air dan dana, tapi juga soal sumber daya manusia (SDM). Akibatnya, banyak perusahaan air minum daerah mulai gulung tikar.

Isu krisis air bersih di Indonesia semakin kuat hampir melanda sebagian wilayah Indonesia. Mau tidak mau masyarkat Indonesia diharuskan membeli air di negeri sendiri. Berdasar data KRuHA 2013-2014, di Indonesia terdapat 50 ribu anak meninggal setiap tahunnya karena kurang air dan sanitasi. Angka ini adalah yang terbesar di ASEAN. Memperingati hari air sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2016 ini adalah momentum bagi kita semua untuk dapat melindungi sumber daya air sebagai hak hidup mati kita untuk generasi mendatang.

Makin terancam
Menurut Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA), air itu bukan sumber penghidupan, tetapi adalah hidup itu sendiri. Masalahnya, saat ini privatisasi dan komersialisasi air pun makin marak. Sumber-sumber air dieksploitasi habis-habisan, dan tagihan air di rumah-rumah terus melejit. Hak rakyat atas air makin terancam.

Akibat dari menjamurnya pabrik-pabrik AMDK yang beroperasi di semua kepulauan Indonesia membawa dampak yang sangat memilukan bagi kehidupan ekonomi, sosial dan lingkungan di sekitar pabrik berdiri. Sementara keadaan di sekitar sumber air pabrik masyarakatnya mengalami kekeringan tetapi perusahaan-perusahaan AMDK itu justru menjadi agen penjual air.

Bank Dunia memperkirakan pada 2025 nanti, dua-pertiga populasi bumi akan mengalami kesulitan air bersih. Seperti layaknya tambang mineral dan migas, sumber air yang terus-menerus terkuras akan habis pada masa yang akan datang. Sementara operasional perusahaan-perusahaan AMDK tidak dibarengi dengan konservasi lingkungan yang memadai.

Bisnis AMDK di Indonesia sangat menggiurkan, selain jumlah penduduknya yang besar, dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang cukup signifikan setiap tahun, tentunya konsumsi AMDK juga ikut meningkat. Saat ini konsumsi AMDK meningkat 11%-12% per tahun. Sayanganya banyak perusahaan besar AMDK telah dikuasai asing.

Berdasarkan data Aspadin, volume penjualan setiap tahun di seluruh Indonesia meningkat. Pada 2013, penjualan mencapai 20,3 miliar liter, naik menjadi 24 miliar liter pada 2014. Adapun menurut data Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), total volume air yang didistribusikan semua anggotanya 3,2 miliar liter yang mencakup 10 juta sambungan.

Komersialisasi terhadap air dalam bentuk AMDK telah menjadi problem tersendiri di samping privatisasi air. Karena sifatnya yang praktis dan disukai masyarakat, AMDK menjadi lahan bisnis yang subur di Indonesia. Apalagi negara ini kaya air, maka perusahaan-perusahaan AMDK yang bahan bakunya tentu saja air lantas berlomba-lomba membangun pabrik untuk memenuhi permintaan pasar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved