KUPI BEUNGOH

Jak Kaloen Manuskrip

Aneh bin ajaib, misalnya tahun ini tidak ada anggaran untuk penyelamatan naskah-naskah Aceh.

Jak Kaloen Manuskrip
Hermansyah 

PROGRAM Jak Kaloen Manuskrip (JKM) yang saya gagas oleh bertujuan untuk menginventarisir naskah-naskah kuno yang masih “tersisa” di Aceh, baik di koleksi oleh museum Aceh, swasta ataupun koleksi pribadi masyarakat di Aceh.

Selain itu, program tersebut juga bertujuan saling berbagi ilmu dengan pihak-pihak lain dan sekaligus sosialisasi pentingnya merawat naskah dan khazanah lainnya, yang selama ini selalu dinilai ekonomis.

Setelah mengupas setengah naskah-naskah koleksi museum yang mencapai 1.800 buah lebih dari seminggu, kemudian beranjak ke kolektor pribadi masyarakat. Tanggal 20-21 Maret diadakan di rumah kediaman bapak Tarmizi A Hamid, dengan mengusung format awal terbuka untuk umum dan gratis untuk segala usia.

Kegiatan JKM tersebut seperti sarasehan dan diskusi tentang seputar manuskrip-manuskrip yang ada di Aceh, ataupun di luar Aceh. Fokus kajian tidak terbatas pada ilmu-ilmu manuskrip, tetapi juga interdisipliner ilmu sesuai dengan peminat dan kontekstual yang terdapat dalam pikiran peserta yang hadir. Dengan demikian, informasi tentang ilmu pernaskahan dan ilmu-ilmu lainnya saling terikat dan terkait.

Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh akademisi dan beragam elemen seperti oleh Dr. Jabbar Sabil dosen UIN Ar-Raniry, Fauzan Santa dari Dokarim, dan Fadhil Rahmi, Lc serta rombongan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), Thayeb Loh Angen, Prof. Aliyasa’ Abubakar dan peserta lain-lainnya.

Inti diskusi kali ini sangat menarik, mulai dari jaraingan keilmuan Aceh ke Timur Tengah, khususnya Arab, seperti banyak karya-karya ulama Aceh disalin dan dicetak di Haramain, Mesir, Turki, India dan wilayah Islam lainnya. Dalam hal ini, Aceh sudah go internasional.

Namun, sekarang ini tidak ada peminat dari Aceh yang mengkaji karya-karya intelektual dulu yang mewarnai keilmuannya di Arab, padahal karya mereka sebanding dengan tokoh-tokoh Arab. Kali ini, saya sebut kita jago kandang.

Diskusi semakin menghangat saat Prof Al Yasa’ Abubakar mengajukan pertanyaan tentang beberapa kajayaan Aceh yang timpang dengan potret sekarang, seperti bagaimana gambaran teknologi Aceh masa lampau yang sempat terekam dalam manuskrip, jikalau Aceh dianggap sebagai sebagai sebuah Kerajaan yang megah?

Bagaimana produksi kapal-kapal perang di Aceh yang melawan Portugis dan Belanda, bagaimana pembuatan meriam? hingga proses industri kertas manuskrip dan perdagangannya antara Aceh dengan Eropa.

Memang, persoalan tersebut bukan hanya pada kajian saja, tetapi juga SDM, bahwa kajian manuskrip tidak banyak peminat di Aceh, tidak seperti di Eropa. Jika secaraa spesifik belum ditemui manuskrip-manuskrip pembuat meriam, senjata dan mesiunya, kapal perang, alat-alat teknologi lainnya, yang konon merupakan alat-alat perang tangguh yang menjadi kebanggaan kesultanan Aceh.

Halaman
12
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved