Breaking News:

Opini

Pemberdayaan Nelayan Melalui Pendidikan

KEHIDUPAN nelayan sangat identik dengan kemiskinan dan kebodohan, stigma ini sangat

Editor: bakri

Oleh Muchlisin Z.a

KEHIDUPAN nelayan sangat identik dengan kemiskinan dan kebodohan, stigma ini sangat melekat pada nelayan kita. Beberapa penelitian menunjukkan pendapatan nelayan Aceh memang masih rendah. Hal ini disebabkan karena nelayan Aceh sebagian besar merupakan nelayan kecil yang menangkap ikan hanya di wilayah pesisir dalam radius 4-6 mil dari pantai dengan hasil tangkapan yang terbatas dan tidak menentu. Jika kita mengacu kepada batasan yang ditetapkan oleh WHO, maka dapat dikatakan benar adanya nelayan Aceh hidup dalam kemiskinan.

Pertanyaannya adalah mengapa kehidupan para nelayan di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya miskin? Banyak teori dan pendapat para pakar tentang penyebab kemiskinan masyarakat nelayan di Indonesia. Selain itu usaha-usaha penanggulangan atau pemberdayaan masyarakat nelayan juga sudah banyak dilakukan, namun hasilnya belum mengembirakan jika tidak ingin dikatakan gagal. Apa penyebabnya?

Pendid ikan rendah
Menurut saya dari banyak penyebab kemiskinan nelayan yang diura ikan oleh pakar, hal paling penting dan mendasar menjadi penyebab utama adalah karena kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan masyarakat nelayan umumnya masih rendah. Hasil penelitian kami dan beberapa laporan terdahulu menunjukkan tingkat ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan formal nelayan umumnya hanya lulusan SD dan SMP.

Dengan tingkat ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan yang demikian rendah, sangat sulit melakukan perubahan mendasar (revolusi mental) terhadap pola pikir, tabiat atau pola hidup dan daya analisis. Secanggih apa pun teknologi yang diber ikan, atau sebesar apa pun modal yang disediakan akan sia-sia jika SDM-nya rendah. Manusia dengan ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan terbatas cenderung berpikir jangka pendek dan pragmatis, sulit untuk diajak membuat perencanaan jangka panjang.

Oleh karena itu pada kesempatan ini saya sebagai seorang tenaga pendidik mengajak kepada pihak terkait untuk menjad ikan ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan sebagai “program super prioritas” bagi nelayan dan keluarganya (anak dan isteri). Pendid ikan yang kami maksud di sini tidak lain adalah termasuk juga ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan non-formal.

Masalah ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan bagi anak nelayan bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendid ikan semata, melainkan juga harus menjadi fokus dari Kementerian Kelautan dan Per ikanan, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan juga masyarakat untuk secara bersama-sama bersinerji dan bersungguh-sungguh meningkatkan taraf ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan masyarakat nelayan.

Perhatian khusus perlu diber ikan kepada anak nelayan, khususnya bagi orang tua bahwa sekolah harus menjadi hal yang utama bagi anak-anak. Nelayan harus menghindari mengajak anak-anak mereka yang masih usia sekolah untuk turut membantu mereka menangkapkan ikan di laut, patut kita sadari mencari nafkah adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua, ber ikanlah ruang dan waktu yang cukup bagi anak-anak kita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya bahkan sampai ke perguruan tinggi. Anak-anak adalah asa kita dimasa mendatang, harapan para nelayan untuk membantu membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan yang membelit nelayan dari generasi ke generasi.

Pendid ikan adalah investasi besar dan bersifat jangka pajang, dampaknya hanya dapat dirasakan puluhan tahun mendatang bahkan satu generasi. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan dana ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan (tidak termasuk gaji tenaga pendidik) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD masing-masing minimal 20%. Namun amanat tersebut belum sepenuhnya terwujud, terutama di daerah-daerah dengan berbagai alasan. Di dalam keluarga pun sebenarnya amanat UUD 1945 tersebut harus diimplemetas ikan dengan mengalokas ikan 20% dari pendapatan untuk kepentingan ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan anak-anak secara umum.

Program beasiswa
Tidak dapat kita pungkiri saat ini pemerintah telah banyak menyediakan fasilitas beasiswa kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk dapat meneruskan ikan' title='pendid ikan'>pendid ikannya ke jenjang ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan tinggi, bahkan sampai program magister (S2). Di antaranya melalui Beasiswa Bidik Misi, yang menyediakan beasiswa penuh (SPP dan biaya hidup bulanan). Namun sayangnya sangat sedikit anak nelayan yang mendapatkannya. Hal ini disebabkan karena jumlah anak nelayan yang mampu sampai ke jenjang perguruan tinggi juga sangat minim.

Oleh karena itu, saya mengimbau para guru untuk menyosialisas ikan program beasiswa ini kepada siswanya dan mendorong mereka untuk mengajukan aplikasinya (informasi lengkap bisa didapatkan di: http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id/. Pihak perguruan tinggi pun perlu menyediakan jalur atau mekanisme khusus bagi anak nelayan akan dapat diterima di perguruan tinggi.

Allah Swt berfirman: “...niscaya Allah akan meningg ikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujaadilah: 11). Sebagai seorang Muslim, janji Allah pastilah benar dan tidak ada keraguan padanya. Oleh karena itu agar “derajat” masyarakat umumnya dan nelayan khususnya dapat ditingkatkan haruslah dengan iman dan ilmu. Inshaallah.

Beriman bermakna mengerjakan semua perintah dan meninggalkan semua yang dilarang Allah Swt. Menuntut ilmu tidak ada batasan waktu, umur, dan tempat. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Pepatah Arab mengatakan: “Tuntutlah ilmu dari buaian (ayunan) sampai liat lahat.” Pepatah Arab yang lain mengatakan: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina.”

Islam sangat mengagungkan ilmu, Rasullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, baik lelaki maupun perempuan.” (HR. Ibnu Abdil Barr). Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat juga harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya juga harus dengan ilmu.” (HR. Turmudzi).

Dengan demikian dapat disimpulkan masalah kemiskinan nelayan ini, Inshaallah akan dapat diselesa ikan jika kita kembali kepada rujukan Alquran dan hadis, yaitu dengan iman dan ilmu, atau ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan secara umum. Oleh karena itu, ikan' title='pendid ikan'>pendid ikan harus menjadi program super prioritas dalam rangka pemberdayaan nelayan, baru kemudian diikuti oleh program-program pemberdayaan lainnya. Selamat Hari Nelayan 6 April 2016!

* Prof. Dr. Muchlisin Z.a., S.Pi, M.Sc., Guru Besar Fakultas Kelautan dan Per ikanan, Ketua Pusat Studi Kelautan dan Per ikanan, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: muchlisinza@unsyiah.ac.id

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved