Breaking News:

Opini

Fenomena Bergek

KELAHIRAN penyanyi baru yang kini digandrungi publik, Bergek alias Zuhdi cukup fenomenal

Editor: bakri

(Jangan Matikan Seni Pertunjukan di Aceh)

Oleh Teuku Kemal Fasya

KELAHIRAN penyanyi baru yang kini digandrungi publik, Bergek alias Zuhdi cukup fenomenal di dunia seni Aceh. Banyak publik memutar lagunya seperti Boeh Hate, Suet Bajee Jih Bloe, 360, Aneuk Dadu, dan lain-lain, serta menghapal liriknya. Kedai kopi, radio publik, kenderaan umum, dan telepon genggam terus memutar musiknya.

Orang bisa saja mengkritik Bergek tidak orisinal. Namun, dalam dunia seni pop apa yang patut dikatakan orisinal? Kritik karena ia menyadur lagu-lagu India? Di mana salahnya? Hampir semua penyanyi pop Aceh menyadur lagu-lagu dari film India yang digandrungi publik, tapi tak ada yang sepopular Bergek.

Dalam karya pop, pasti terjadi kemiripan dan inspirasi atas karya-karya yang lebih dulu ngepop, mainstream, dan kanonik. Lihat saja Koes Plus yang dianggap “meniru” The Beatles, God Bless “menjiplak” Genesis, Power Metal mirip dengan Helloween dan Judas Priest. Bahkan musisi paling sukses dekade 1990-an hingga 2000-an, Ahmad Dhani, tak kurang kontroversi karena pernah “memplagiasi” karya musisi asing seperti Portishead dan Muse.

Belum lagi penyanyi-penyanyi baru yang sedang mencari panggung dan karakter, pasti juga terpaksa lebih dulu berkiblat kepada musisi senior yang telah punya pasar. Mereka bukan pembebek sempurna. Dengan proses belajar terus-menerus, mencari hal-hal detil, dan meramunya secara total menjadikan mereka patron baru di dunia musik Indonesia bahkan internasional.

Ikon baru
Demikian pula Bergek. Tepikan dulu kontroversi subjektif kepadanya. Nyatanya ia ikon baru di dunia musik Aceh yang sedang lesu darah. Yang dilakukan Bergek bahkan tidak bisa dikatakan plagiator. Ia memiliki talenta untuk memberikan komposisi, ornamensi, dan organologi dalam bermusik. Karakter musikalitasnya juga khas.

Keunikan itulah yang menyebabkan Bergek menjadi disukai publik. CD-nya laris manis (kita sudah meninggalkan dunia kaset di industri musik). MP3, 3GP, MP4, FLV-nya diunduh ribuan banyaknya, termasuk oleh peminat di luar Aceh. Lagu Dikit-dikit dan Aneuk Dadu yang dinyanyikannya lebih berkarakter, menghibur, dan jenaka dibandingkan versi aslinya. Satu hal, Bergek terampil mencampur-sarikan Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia di dalam lirik-lirik lagunya. Itu orisinil dia.

Dalam kajian budaya, yang dilakukan Bergek disebut mimicry: sebuah upaya peniruan tapi tidak persis sama. Ia tidak tumplek-plek seperti dosen yang memplagiasi karya koleganya tanpa berkeringat dan menggunakan teknik copy and paste. Tujuannya juga rendahan: demi urusan naik pangkat atawa cum.

Menurut Jacques Lacan, filsuf dekonstruksionis Perancis, mimicry ala Bergek terjadi karena alas permadani berkarya masih diselubungi oleh watak kolonialitas dan modernitas (kuno). Dalam produksi karya, seni pop sesungguhnya hadir dari meniru, terpesona, dan termotivasi atas sesuatu yang sebelumnya ada untuk kemudian diperbarui.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved