Opini

Umrah Murah untuk Aceh

BEBERAPA waktu lalu Serambi Indonesia memberitakan bahwa jamaah umrah asal Aceh harus

Oleh Hasan Basri M. Nur

BEBERAPA waktu lalu Serambi Indonesia memberitakan bahwa jamaah umrah asal Aceh harus menginap di Medan tatkala mau menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci Mekkah. Mereka harus berangkat ke Bandara Kualanamu sehari sebelumnya karena pesawat tujuan Jeddah terbang pada pagi hari. Artinya, orang Aceh harus merogoh uang tambahan untuk beli tiket ke Medan dan biaya penginapan di sana (Serambi, 1/4/2016). Aceh yang berjuluk “Serambi Mekkah” terasa laksana “Serambi Medan”. Duh!

Jamaah umrah asal Aceh harus mencari bandara lain untuk menjangkau Timur Tengah. Sebagian perusahaan travel memilih bandara Kuala Namu, sebagian lagi memilih start dari Jakarta, dan ada pula yang memilih berangkat dari Kuala Lumpur, Malaysia. Aceh yang diklaim punya lex specialis tampak belum siap menjadi provinsi. Meski sudah berjudul bandara internasional, tapi nyatanya bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) tidak melayani satu pun penerbangan ke Timur Tengah. Inilah pemicu tingginya biaya umrah dari Aceh, walau secara geografis letaknya lebih dekat dengan Timur Tengah dibanding provinsi-provinsi lain.

Kegelisahan jamaah umrah Aceh itu disambut Gubernur Aceh dengan melobi pihak maskapai Garuda Indonesia agar membuka rute penerbangan langsung dari Bandara SIM ke Jeddah. Pihak Garuda pun berjanji akan membuka rute tersebut mulai 3 Mei 2016 dengan mentransitkan pesawat dari Solo, Jawa Tengah. Di masa promo, pihak Garuda menyediakan tiket PP seharga Rp 11.555.000 juta (Serambi, 20/4/2016). Kalau harga promo saja sudah mencapai belasan juta rupiah tentu harga normalnya pasti lebih dahsyat.

Patut diapresiasi
Kebijakan menghadirkan penerbangan Garuda ke Jeddah disambut gembira oleh warga Aceh dan sejumlah biro perjalanan. Pada satu sisi, kebijakan ini patut diapresiasi karena akan membuka Aceh dari isolasi pergaulan internasional. Namun, pada sisi lain, harga promo tiket Garuda itu belumlah pro-rakyat kelas bawah. Dengan harga tiket pesawat yang mencapai belasan juta rupiah membuat biaya perjalanan umrah tetap tinggi. Dan, tentunya, tidak semua orang sanggup berumrah.

Jika ditambah biaya penginapan selama 10 hari di Madinah dan Mekkah, biaya transportasi lokal, biaya makan, plus keuntungan travel, maka biaya perjalanan umrah akan tetap tinggi, bisa mencapai Rp 25-35 juta/orang. Artinya, kebijakan ini bukanlah cara terbaik dalam menyahuti hasrat orang Aceh golongan menengah ke bawah yang ingin beribadah umrah di tengah antrean panjang daftar tunggu haji.

Ada satu cara untuk membantu rakyat Aceh agar dapat menunaikan umrah dengan biaya murah. Pemerintah Aceh perlu melakukan pendekataan dengan maskapai lain untuk membuka rute Banda Aceh-Jeddah atau ke negara-negara Timur Tengah. Kita tahu sangat banyak maskapai tujuan Timur Tengah yang lalu lalang di udara Aceh, terutama yang berangkat dari Jakarta dan Surabaya. Dari pelacakan saya melalui situs penyedia jasa tiket dan hotel online, tersebutlah maskapai Emirates, Etihad, Qatar Air, Saudi Arabian Air, Air Asia, SriLankan Air, dan banyak lainnya.

Harga tiket pesawat-pesawat itu tampak cocok untuk isi kantong orang Aceh yang sebagian besar berprofesi tani dan nelayan. Harganya bervariasi antara Rp 3,7 juta - Rp 5 juta sekali jalan, atau Rp 7,5 juta untuk PP. Kalau start dari Banda Aceh harganya pasti lebih murah lagi karena jarak tempuh yang lebih singkat. Apalagi kalau kita mau melacak tiket promo, harganya pasti lebih “heboh”. Andai tersedia penerbangan alternatif ini, maka pihak travel bisa menawarkan harga paket umrah dengan harga hot.

Nah, pemerintah Aceh perlu menggagas diskusi dengan maskapai-maskapai tersebut agar mereka bersedia singgah di bandara SIM dalam perjalanan Jakarta-Jeddah. Saya yakin pihak penerbangan akan menyambut positif tawaran ini kalau Gubernur Aceh melalui instansi-instansi terkait seperti Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag), atau Dinas Syariat Islam, serius menggarap terobosan ini.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemda Aceh? Pertama, melakukan pendataan dan mengundang semua perusahaan travel umrah di seluruh Aceh. Dari sini akan diketahui jadwal pemberangkatan setiap travel, jumlah jamaah setiap kali berangkat dan lain-lain. Kedua, melakukan pendataan jumlah jamaah umrah yang berangkat melalui travel di luar Aceh. Dari amatan sekilas, sangat banyak orang Aceh yang berangkat melalui travel di Medan dan Jakarta.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved