Songket belum Bisa Penuhi Permintaan Pasar

Pengembangan kain songket dari hasil kerajinan tenun warga di Aceh Jaya hingga saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar

CALANG - Pengembangan kain songket dari hasil  kerajinan tenun warga di Aceh Jaya hingga saat ini  belum mampu memenuhi permintaan pasar. Kondisi tersebut disebab minimnya para pengrajin tenun kain songket saat ini. Kepala Disperindagkop Aceh Jaya Marzuki kepada Serambi, Jumat (13/5) mengatakan minat warga untuk menjadi pengrajin tenun masih minim pengembangan songket tak berjalan optimal.

“Untuk saat ini, pengrajin tenun kain songket hanya ada di Lamo dan Krueng Sabee. Sedangkan hasil produksi masih sangat kecil akibat kurang pekerja, sehingga adanya permintaan songket dari luar belum bisa terpenuhi,” papar Marzuki. Menurutnya songket mengandung falsafah hidup masyarakat Aceh yang terkenal religius. Kain tersebut menjadi bagian sakral dalam acara budaya seperti pernikahan dan acara adat budaya.

“Masalah yang timbul di kalangan anak muda kurang tertarik untuk menjadi pengrajin songket. Untuk menenun songket dikenal banyak memakan waktu. Untuk menyelesaikan kain songket berukuran 1,95 meter x 1,10 meter butuh waktu sekitar satu bulan,”jelasnya. Marzuki menambahkan penghasilan pengrajin songket dianggap tak menjanjikan. Sementara itu ongkos produksi tak sebanding dengan harga jualnya yakni butuh modal Rp 600.000-Rp 1 juta untuk membuat selembar kain. Sedangkan harga jualnya berkisar antara Rp 1 juta-Rp 2 juta per lembar.(c45)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved