YARA: Usut Proyek Break Water

Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Barat Daya (Abdya) dan Gerakan Anti Korupsi

* GeRAK: Ada Indikasi Korupsi

BLANGPIDIE - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Barat Daya (Abdya) dan Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh meminta DPRK Abdya mengusut proyek pembangunan break water (pemecah ombak) di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Susoh.

“Ini penting untuk ditelusuri agar pembangunan break water PPI Susoh yang menghabiskan anggaran puluhan miliar tidak mubazir,” ujar Ketua YARA Perwakilan Abdya Miswar kepada Serambi kemarin.

Menurutnya berdasarkan Undang-undang No 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Pasal 43 (1) menyebutkan, barang siapa yang melakukan perencanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi ketentuan keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenai pidana paling lama lima tahun penjara. “Kami mendesak DPRK dan aparat penegak hukum menyelidikinya. Apalagi, pembangunan break water PPI Susoh ini sudah beberapa kali mengalami pemutusan kontrak,” ungkapnya.

Miswar menyebutkan pembangunan break water PPI Susoh dinilai tidak sesuai perencanaan dan diduga terjadi penyimpangan dan mark-up. Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Askhalani mendorong Kejaksaan melakukan penyelidikan atas dugaan ketidaksempurnaan pengerjaan proyek break water yang terindikasi ada dugaan korupsi.

“Dugaan itu dapat dilihat dari pekerjaan yang tidak mampu dicapai 100 persen dan dapat diduga bahwa ada unsur-unsur kesengajaan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, terlebih jumlah anggaran untuk break water lumayan besar,” ujar Askhalani kepada Serambi. Selain itu, kata Askhalani, paket pekerjaan tersebut berpotensi terjadi korupsi berjamaah apabila pengawasan lemah.

“Jika kontraktor bersama konsultan pengawas melakukan kolaborasi untuk melakukan upaya tertentu misalnya menaikan persentase, menaikkan termin pekerjaan, maka yang terjadi adalah kejahatan terencana,” tegasnya. Askhalani juga menyebutkan dalam pengerjaan proyek tersebut diduga ada permainan antara kontraktor yang memenangkan tender dengan melakukan sub pekerjaan kepihak lain.(c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved