Opini

Daging Halal di Negeri Syariat

ACEH telah banyak memberi kontribusi kepada Nusantara, terutama berkaitan dengan keislaman. Penerapan syariah Islam

Oleh Teuku Azhar Ibrahim

ACEH telah banyak memberi kontribusi kepada Nusantara, terutama berkaitan dengan keislaman. Penerapan syariah Islam di Aceh membuat banyak kawasan lain ingin belajar ke Aceh. Namun prototype yang ditawarkan itu belum disempurnakan, atau memang butuh waktu lagi agar lebih sempurna. Sehingga saat melakukan studi banding ke Aceh, sebagian pengunjung kecewa. Namun demikian, sebagai masyarakat Aceh ikut bangga ketika Polwan dan TNI wanita ingin berjilbab diarahkan ke Aceh.

Bagian yang urgensi untuk disempurnakan adalah penaganan proses  makanan halal di pasar-pasar tradisional seluruh Aceh. Pemerintah semestinya lebih proaktif untuk melibatkan diri, walau kesannya sebagai usaha pribadi tapi pengadaan makanan halal di pasar-pasar bagian dari publik servis. Dari sekian banyak masalah makanan halal yang tidak tertangani adalah pemotongan unggas. Praktik di lapangan memprihatinkan, terutama berkaitan dengan tempat pemotongan.

Kesan pertama yang tertangkap saat ke tempat penjual atau pemotong unggas adalah kotor dan tidak hygine, sementara unggas pilihan kedua masyarakat Aceh setelah ikan. Mungkin kita tidak meragukan cara memotong leher ayam oleh para juru potong karena mereka telah melakukan secara turun temurun dengan mengikuti kebiasaan; yaitu terpotong tiga saluran pada leher unggas dengan pisau tajam.

Namun unggas tersebut menjadi tidak halal saat dimasukan dalam air panas dalam keadaan masih hidup, unggas mati karena tenggelam bukan karena habis darah, atau mati karena bertumbuk-tumbuk. Semestinya pemerintah Aceh punya wakil khusus di pasar-pasar untuk memonitoring secara berkelanjutan proses tersebut, berhubung di Aceh tidak mengeluarkan Sertifikat Halal atau izin usaha khusus untuk kegiatan usaha pemotongan unggas.

 Mitra pemerintah
Sisi lain, para penyedia kebutuhan publik di pasar-pasar tradisional adalah sebagai mitra pemerintah dalam menyempurnakan pelaksanaan hukum syariah di Aceh. Artinya, mereka harus memdapat bantuan langsung atau hibah untuk menjalankan bisnis pelayanan publik yang mereka geluti. Jika infrastruktur atau peralatan pendukung harus menguras dari kantong pelaku usaha kecil tersebut, tentu akan memberatkan mereka. Sebab, keuntungan yang diperoleh sehari-hari tidak memadai untuk melengkapi peralatan sesuai standar hygine dan halal berkualitas atau istilah syariah halalan thaiban halal dan baik.

Untuk pelaksanaan penerapan monitoring dan pembinaan, dua dinas berpotensi untuk berkelaborasi, yaitu Dinas Syariat Islam dan Dinas Kesehatan. Barangkali dengan dana yang tidak terlalu besar, pasar tradisional telah tertata rapi dan masyarakat dapat menikmati pelayanan daging unggas halal, juga bahan makanan lainnya.

Barangkali Pasar Lambaro di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, bisa menjadi pilot proyek pembinaan pelayanan daging unggas halal berkualitas. Di samping posisinya strategis berada di pintu masuk kota Banda Aceh, ketersediaan lahan masih luas, juga sebagai pasar grosir utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan retail.  

Bila saja, para penyedia daging unggas direlokasi pada satu titik dengan tempat pemotongan yang hygine, waste management terencana dengan baik, pengadaan air bersih yang cukup, tentu akan menguntungkan konsumen juga pedangang, serta image sebuah pasar negeri syariat. Kalau pun itu akan menghabiskan biaya besar, bisa ditempuh dengan cara lebih sederhana; tiap pelaku usaha daging uggas difasilitasi dengan meja stainless steel, meja kayu pemotong, dan ketersediaan air bersih yang memadai atau mereka mudah dalam mengakses air bersih.

Infrastruktur pendukung tersebut selayaknya sebagai hibah, karena mengharap sumber dana dari pelaku usaha, boleh jadi akan memberatkan. Namun pemerintah memiliki bargaining dalam memonitoring pelayanan daging unggas untuk masyarakat. Setiap pelaku usaha harus memiliki izin atau sertifikat usaha penyediaan daging unggas, jika mereka tidak merawat peralatan hibah atau prosedur penyedian daging unggas tidak memenuhi SOP (standar operasional prosedur Halal) maka izin usaha bisa dicabut setelah lewat proses peringatan.

 Daging halal
Dengan demikian pelan-pelan negeri Aceh benar-benar bisa dijadikan sebagai prototype negeri syariat. Selanjutnya bisa dikembangkan ke penyedia makanan halal lainnya di pasar-pasar tradisional, restoran dan pasar modern seluruh Aceh. Banyak di antara kita, termasuk anggota dewan, penjabat pemerintah punya pengalaman menyaksikan pelayanan daging halal di negeri lain, bersih, hygine, dan sehat dikonsumsi.

Sebagai contoh, muslim Australia sangat profesional dalam penanganan daging halal, sehingga mengalahkan produk daging non halal di pasar-pasar konvensional. Image yang terbangun pada masyarakat; halal meat is hygiene menimbulkan kecemburuan para pemasok daging non halal hingga mereka memprovokasi masyarat dan pemerintah untuk melarang penjualan daging halal, tentu usaha tersebut sia-sia saja.

Kenyataan tersebut kami saksikan sendiri; penjual daging halal di pasar Prestone Melbourne kewalahan melayani pembeli dari kalangan muslim dan non-muslim. Pemandangan lain lebih dahsyat, ketika sebuah usaha penyedia daging non halal di pusat pembelanjaan Northland bangkrut. Kemudian, diambil alih oleh pengusaha daging halal dari kalangan Muslim berlatar Timur Tengah, keadaan berubah 180 derajat, para pembeli antri panjang baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Hidup di negeri syariat akan lebih nikmat bila pelaksanaan disempurnakan, terutama soal daging unggas halalan thaiban. Nah!

Teuku Azhar Ibrahim, Lc., anggota Dewan Penasehat Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), Guru Pesantren Baitul Arqam Sibreh, Aceh Besar. Email: teuku.azib@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved