Subulussalam Rusuh

Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Subulussalam oleh tim terpadu yang dikomandoi

Subulussalam Rusuh
BENTROKAN antara Personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan Pedagang Kaki Lima di Jalan Malikussaleh samping komplek Terminal Terpadu Subulussalam, Selasa (7/6). SERAMBI/KHALIDIN 

* Kapolres Singkil: Ada Lima Korban Luka-luka

SUBULUSSALAM - Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Subulussalam oleh tim terpadu yang dikomandoi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berubah rusuh, Selasa (7/6). Pedagang yang tersulut emosi bukan hanya mengejar anggota Satpol PP di lapangan tetapi menyerbu petugas yang siaga di kantor. Polisi melepaskan rentetan tembakan peringatan untuk membubarkan massa. Lima orang dilaporkan terluka akibat insiden itu.

Operasi penertiban PKL yang juga melibatkan tim Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Kota Subulussalam tersebut dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Awalnya penertiban diwarnai cekcok mulut antara pedagang sayur dengan Satpol PP.

Pedagang yang didominasi kaum ibu keberatan dengan tindakan Satpol PP yang dianggap terlalu berlebihan. Para pedagang juga keberatan ditertibkan dengan alasan mereka tidak memiliki kios atau lapak di lokasi pasar yang baru dibangun pemerintah.

Pihak Satpol PP yang dipimpin Abdul Malik tetap melakukan penertiban dengan alasan lapak pedagang telah memasuki bahu jalan. Pedagang tetap bertahan sambil terus terlibat adu mulut dengan tim Satpol PP termasuk dengan Kepala Disperindagkop UKM, Asrul. Diwarnai perang mulut yang semakin memanas, petugas tetap membongkar lapak jualan pedagang.

Keadaan semakin memburuk ketika beberapa orang terlihat merobohkan tenda (pos jaga) petugas Satpol PP karena menurut mereka tenda itu berdiri di atas bahu jalan.

Pilih kasih
Dari sumber-sumber pedagang diperoleh informasi, kemarahan mareka karena pemerintah dianggap pilih kasih dalam penertiban. Pedagang mencontohkan sejumlah lapak dagangan lainnya dibiarkan di bahu jalan termasuk di sepanjang Jalan Teuku Umar dan Masjid Asilmi yang menjual menu berbuka puasa. “Kami digusur sementara di sana di Jalan Teuku Umar kenapa banyak berjualan di pinggir jalan bahkan dekat pagar masjid,” protes pedagang.

Pedagang bernama Nur Sani Solin, Nurhayati, dan Siti Hardiah mengaku tidak ada uang untuk membeli lapak pada lokasi pasar yang baru dibangun pemerintah. Apalagi, di pasar baru itu dilaporkan telah terjadi penguasaan kios dan lapak oleh beberapa oknum lalu dijual kembali dengan harga tinggi. Harga kios di pasar baru itu mencapai sepuluh jutaan rupiah.

Bentrok fisik
Bentrok fisik antara Satpol PP dengan pedagang tak terhindari apalagi, apalagi ada pedagang yang mengaku dikasasri petugas. Beberapa di antaranya juga mengaku tak sanggup membendung emosi melihat orangtua mereka diperlakukan tak wajar. Mereka mengamuk dan mengejar Satpol PP lantaran dianggap hanya berani menggusur pedagang kecil. Terjadi aksi saling pukul, caci maki, lemparan batu, dan ayunan kayu.

Satpol PP berusaha melakukan perlawanan namun kalah jumlah. Apalagi sebagian besar personel yang diturunkan adalah perempuan. Mereka lari menyelamatkan diri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved