Sipir Rutan Jadi Tersangka

Penyidik Satreskrim Polres Aceh Utara sudah menetapkan Junaidi, sipir rumah tahanan negara

* Keluarkan Napi tanpa Izin hingga Kabur

LHOKSUKON - Penyidik Satreskrim Polres Aceh Utara sudah menetapkan Junaidi, sipir rumah tahanan negara (Rutan) Cabang Lhoksukon, sebagai tersangka dalam kasus kaburnya seorang narapidana (napi) dari rutan tersebut.

Untuk diketahui, Junaidi yang bertugas sebagai komandan jaga, pada 20 Mei 2016 mengeluarkan M Daini, napi asal Matang Raya, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, dari rutan tersebut tanpa seizin kepala rutan. Setelah dikeluarkan, napi tersebut kabur dan sampai sekarang belum kembali.

Sementara kasus kaburnya Wadirullah (32), napi lainnya asal Pulo Bluek, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, pada Sabtu (11/6) sekitar pukul 06.45 WIB, hingga kini masih dalam proses penyelidikan petugas. Sampai sore kemarin, napi itu juga belum ditemukan petugas.

Informasi diperoleh Serambi, Daini keluar dari rutan pada 20 Mei 2016 pukul 23.30 WIB, setelah diizinkan Junaidi. Ia meminta izin dengan alasan pulang ke rumah istrinya di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Tapi sampai pagi tak kembali. Kejadian itu diketahui sipir lainnya saat serah terima piket jaga. Lalu, mulai 22 Mei polisi menyelidiki kasus itu.

“Dalam proses penyelidikan, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi dari sipir yang betugas piket malam tersebut, kemudian juga ada polisi dan juga komandan jaga sebagai saksi, sebelum ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Wawan Setiawan melalui Kasat Reskrim AKP Mahliadi kepada Serambi, Minggu (12/6).

Menurut Kasat Reskrim, Junaidi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu setelah penyidik mendapatkan dua alat bukti yang cukup. Tersangka dijerat Pasal 426 KUHPIdana tentang pejabat yang diberi tugas menjaga orang yang dirampas kemerdekaannya dengan sengaja membiarkan orang itu melarikan diri.

“Penyidik juga sudah mengirim surat pemberitahuan dimulai penyidikan (SPDP) ke jaksa. Selain itu penyidik juga sudah merampungkan dan sudah siap jilid berkas kasus itu, dan segera dikirim ke jaksa,” kata AKP Mahliadi. Sedangkan kasus kaburnya napi bernama Wadirullah pada 11 Juni 2016, masih dalam proses pengumpulan barang bukti dan keterangan.

Kepala Rutan Cabang Lhoksukon, Aceh Utara, Effendi SH kepada Serambi mengatakan, sejumlah sipir di Rutan Lhoksukon yang bertugas malam itu sudah diperiksa sebagai saksi, termasuk komandan jaga. Selain itu tim Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkum HAM) juga sudah memeriksa komandan jaga tersebut.

“Saya sudah berulangkali mengingatkan dan memberikan pengarahan kepada petugas. Saya berharap ke depan kasus serupa tak terjadi lagi,” katanya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved