Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Menyiapkan SDM Berkualitas

ALKISAH, suatu hari seorang dosen pemasaran memulai kuliah dengan sebuah cerita

Menyiapkan SDM Berkualitas

Oleh Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, MBA Rektor Universitas Teuku Umar

ALKISAH, suatu hari seorang dosen pemasaran memulai kuliah dengan sebuah cerita. Di sebuah desa--sang dosen memulai ceritanya--hiduplah sekelompok masyarakat yang bermata pencaharian utama sebagai petani. Sebagian besar mayarakat desa ini paling senang menanam pisang. Setiap hari pekan, mereka membawa bertandan-tandan pisang hasil dari kebun mereka ke pasar. Sebagian uang hasil penjualan pisang tersebut, biasanya mereka beli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah. Keluarga tercinta mereka di rumah selalu berharap oleh-oleh tersebut. Itu sebabnya ketika ada di antara anggota keluarga mereka yang pergi ke pasar, mereka selalu bilang, “Jangan lupa oleh-oleh.”

Setelah berhenti sejenak, dosen tersebut bertanya kepada mahasiswanya: Tahukah kalian, apakah oleh-oleh tersebut? Setelah diam sebentar, mulailah mahasiswa di kelas tersebut merespons dengan sejumlah jawaban. Tidak satu pun jawaban mereka tepat. Lalu sang dosen, memberi jawaban, “Oleh-oleh tersebut adalah pisang goreng.” Suasana ruang kelas yang sebelumnya tenang, tiba-tiba gemuruh dengan suara tawa mahasiswa. Lalu dosen tersebut menanyakan, “Apa yang lucu, kenapa harus ketawa?” Mereka masih ketawa. Lalu, untuk menenangkan ruang kelas, dengan suara agak keras, sang dosen kembali mengajukan pertanyaan: Apa yang lucu, kenapa harus ketawa? Suasana ruang kuliah kembali tenang.

Kembali pertanyaan yang sama diajukan Pak Dosen: Apa yang lucu, kenapa harus ketawa? Seorang mahasiswa menjawab: Luculah Pak, masa mereka jauh-jauh pergi ke pasar jual pisang, lalu bawa pulang oleh-olehnya pisang goreng. Itu kan lucu, Pak. Berarti bodoh sekali masyarakat di sana, Pak.” Lalu mahasiswa lain menimpali, “Itu kan sebuah cerita, bukan di alam nyata.” Dan muncullah berbagai statement dari mahasiswa yang memojokkan masyarakat desa tersebut.

Lalu sang dosen kembali bertanya: Pernah makan cokelat? Jawaban sebagian besar mahasiswa di kelas tersebut, “Sering.” Kalau libur pulang kampung, adik-adik kamu, sering minta bawa pulang apa? Jawaban mereka, “Cokelat.”

Lalu dosen berkata, “Coba tunjuk tangan, siapa saja di kebun kalian yang ada pohon kakao.” Beberapa di antara mereka tunjuk tangan. Sang dosen, kembali berucap: Sebagian besar cokelat yang kalian makan itu merupakan produk impor dari Swiss. Sementara di Swiss tidak ada pohon kakao yang menjadi bahan baku utama cokelat. Jika kakao berubah menjadi cokelat, maka nilainya pun sepuluh kali lebih besar. Dan, sebagian kakao tersebut berasal dari kebun kalian.” Ruang kuliah pun hening, tak ada yang bersuara.

Jadi, kisah desa dalam cerita tersebut di atas adalah fakta. Fakta ini sekarang wujud di negara kita. Tak ada bedanya, antara desa tersebut dengan Indonesia atau Aceh sekarang ini. Betapa banyak negara kita mengekspor bahan baku, kemudian kita mengimpornya kembali dalam bentuk barang jadi. Kita ekspor kayu, lalu impor tripleks. Kita ekspor CPO lalu impor mentega. Bahkan lebih parah lagi, kita ekspor pakaian jadi, sampai di Singapura diberi merek tertentu, lalu masyarakat kita mengimpornya lagi. Lebih seratus triliun rupiah setiap tahun kita gunakan untuk impor pangan, semacam singkong, bawang, cabai, beras, kedele, dan daging yang sebenarnya dapat kita hasilkan sendiri.

Kualitas SDM
Di mana letak salahnya? Apa biang keroknya? Kalau kita amati, negara-negara miskin cenderung mengimpor kembali sesuatu yang bahan baku utama dari negaranya. Jadi, proses penambahan nilai terbesar justeru terletak di sektor pengolahan atau industri. Kalau kita berbuat sesuatu mengutamakan otot, negara industri menggunakan otak. Berarti hal ini tentu terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari sesuatu bangsa tersebut.

Kualitas SDM sesuatu bangsa tergantung seberapa hebat bangsa tersebut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang ingin menguasai dunia, maka harus memiliki ilmu dan barang siapa yang ingin menguasai akhirat, maka harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang ingin menguasai keduanya maka harus dengan ilmu.” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan Allah Swt dalam Alquran memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap ilmu pengetahuan. Terbukti, ayat yang pertama kali turun berbunyi: Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Membaca, dalam arti luas, merupakan aktivitas utama dalam kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tentu saja diharapkan akan meningkatkan kualitas SDM.

Jika ditinjau dari perspektif sejarah, dunia Islam juga pernah meraih kejayaan yang hebat. Akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam muncul setelah masuknya gelombang Hellenisme melalui gerakan penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab yang dipelopori khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Makmun (813-833 M). Beliau mengirim utusan ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli sejumlah manuskrip untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Sejak itu para ulama mulai berkenalan dan menelaah secara mendalam pemikiran-pemikiran ilmuwan Yunani seperti Pythagoras (530-495 SM), Plato (425-347 SM), Aristoteles (388-322 SM), Aristarchos (310-230 SM) dan lain-lain. Tidak lama kemudian muncullah di kalangan umat Islam para filosof dan ilmuwan yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di bidang kedokteran, misalnya, muncul al-Razi (866-909 M), Ibn Sina (wafat 926 M), dan Ibn Zuhr (1091-1162 M). Dalam bidang filsafat muncul; al-Kindi (801-862 M), al-Farabi (870-950 M), dan al-Ghazali (1058-1111 M). Dalam bidang ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam muncul; al-Khawarizmi (780-850 M), al-Farghani (abad ke-9), dan an-Nairazi (wafat 922 M).

Jadi, untuk masa depan Aceh yang cemerlang, perlu dipersiapkan SDM yang andal. Perguruan tinggi, baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh, diharapkan berkontribusi secara signifikan dalam menyiapkan SDM Aceh berkualitas. Di sisi lain, kita juga prihatin dengan mutu kelulusan SMA Aceh yang berada jauh di bawah rata-rata nasional. Untuk itu, Pemerintah Aceh beserta lembaga-lembaga yang bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan diharapkan segera mendiskusikan dan mencari solusi yang tepat atas permasalaham yang terjadi sejak beberapa tahun kebelakang ini.

Jika hal ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka permasalahan pendidikan Aceh dapat teratasi. Karena bagaimanapun juga, masa depan Aceh yang cemerlang sangat tergantung pada SDM yang hebat, dan SDM yang hebat sangat tergantung kepada kualitas lembaga pendidikan yang menghasilkannya. Andai suatu saat Aceh memiliki SDM yang hebat dengan potensi alam yang amat kaya, maka insya Allah Aceh akan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di sektor industri berbasis agro dan kelautan. Nah! (email: rektor@utu.ac.id)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved