Citizen Reporter

Dahaga Persaudaraan Islam di Kaohsiung

HARI ini suasana Kota Kaohsiung kembali seperti yang kami kenal sejak menginjakkan kaki

Dahaga Persaudaraan Islam di Kaohsiung

OLEH KAHLIL MUCHTAR, Mahasiswa Program Doktoral di National Sun Yat-sen University, Kaohsiung, melaporkan dari Taiwan

HARI ini suasana Kota Kaohsiung kembali seperti yang kami kenal sejak menginjakkan kaki empat tahun lalu. Cuaca terik kala bulan Ramadhan di Taiwan saat ini sering mengingatkan kami akan suasana berpuasa di Banda Aceh, terutama ketika sore menjelang. Pastinya banyak dijajakan kue kering, air kelapa muda, air tebu, aneka kue, roti, dan martabak mesir. Namun, pemandangan seperti itu tak kami dapatkan di Kaohsiung pada puasa kali ini.

Meski demikian, perbedaan tak harus dikeluhkan, melainkan harus disikapi sebagai suasana baru yang tak kalah bermakna.

Guna melepas dahaga persaudaraan, kami pun berbuka puasa dengan jamaah Masjid Kaohsiung, satu-satunya masjid megah di Kota Kaohsiung yang terletak di Distrik Weiwuying.

Bagi mereka yang ingin datang ke masjid ini bisa dicapai dengan kereta bawah tanah. Cukup mengambil jalur oranye saja dan turun di Stasiun Weiwuying pintu ke luar nomor 4, insya Allah akan bertemu Masjid Kaohsiung.

Kalaupun ingin mencapainya dengan mengendarai sepeda motor dari pusat kota juga bisa, karena memang tak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 20 menit perjalanan.

Nah, setiba di masjid ini, suasana puasa langsung terasa. Di aula lantai satunya telah disediakan lima meja bundar bagi jamaah yang rutin ifthar jama’i (buka puasa bersama).

Yang menarik adalah kehangatan seorang ibu yang sering kami jumpai saat ke masjid. Dia menuntun kami ke meja dan memberikan mangkuk, sumpit, dan air mineral untuk persiapan berbuka.

Bersamaan dengan itu, pengelola masjid menyambut kami dengan sangat hangat, seolah tamu jauh yang sudah lama tak bertemu. Dengan bekal bahasa Mandarin, kami asyik bercengkerama, menanyakan kabar, dan bertukar informasi hingga magrib menjelang.

Tercatat selain jamaah asli Taiwan, beberapa muslim Mesir, Indonesia, India, dan Pakistan pun ikut hadir dalam agenda buka bersama ini.

Hal lain yang tak kalah menariknya adalah konsistensi jamaah Tarawih di masjid megah yang resmi dibuka tahun 1992 ini. Memang dari segi jumlah muslim di Taiwan sangat minim, namun konsistensi jamaah yang ada untuk menghidupkan malam-malam bulan suci Ramadhan patut diacungi jempol.

Tercatat hanya satu setengah saf jamaah shalat Isya dan Tarawih, tetapi saf tersebut tak pernah berkurang hingga akhir Ramadhan. Jumlah jamaah biasanya bertambah saat akhir pekan, karena saat itu banyak buruh migran Indonesia (BMI) yang mendapatkan jatah libur dari majikannya dan berkesempatan meramaikan masjid.

Ramadhan tak terasa sudah mendekati setengah perjalanan, cuaca terik seakan tak mau pergi, namun itu hanyalah secuil ujian di bulan ini, kala Allah Swt membuka pintu ampunan sebesar-besarnya. Selamat melanjutkan puasa Ramadhan. Salam kami dari Taiwan.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved