Kelompok Tani Tuntut Ongkos Kerja

Para anggota kelompok tani dari Gampong Ingin Jaya dan Batee, Kecamatan Muara Tiga (Laweung)

* Pada Proyek Tanam Ubi Senilai Rp 2 M di Laweung

SIGLI - Para anggota kelompok tani dari Gampong Ingin Jaya dan Batee, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), menuntut pembayaran ongkos kerja yang belum dibayar pada proyek penanaman ubi (singkong) yang dananya mencapai Rp 2 miliar. Proyek tanam singkong ubi tersebut dilakukan di areal seluas 200 hektare di kawasan hutan Laweung yang kini telah selesai dipanen.

Bukhari Ismail (46) Ketua Kelompok Tani didampingi anggotanya, Sulaiman Tgk Ali (46) dan Ismail ibrahim (55), Selasa (21/6) mengatakan, proyek tanam ubi kayu melalui sebuah koperasi ini telah menyisakan masalah, terutama terhadap pekerja sebagai kelompok tani yang dilibatkan.

Pasalnya, warga yang tergabung dalam kelompok tani telah bekerja selama tiga bulan mengerjakan proyek bernilai Rp 2 miliar itu, namun ongkos kerja mereka belum dibayar hingga saat ini. Padahal, kata Bukhari, koperasi berjanji hasil panen dibagi dua dengan kelompok tani. “Tapi, saat ubi tersebut dipanen, pihak koperasi tidak membagi hasil panen kepada kami (kelompok tani),” ujarnya.

Kata Bukhari, saat ditanyakan kepada keuchik selaku koordinator kelompok atas uang hasil panen, keuchik menyatakan bahwa dana tersebut telah digunakan untuk bayar utang makan para pekerja yang besaran Rp 80 juta.

“Menurut kami, uang didapat dari hasil panen, lebih dari Rp 80 juta. Karena satu batang ubi menghasilkan sekitar Rp 10 Kg ubi kayu dengan harga jual Rp 1.200/Kg. Kami sangat kecewa karena ongkos kerja kami tidak dibayar, dan lahan yang digarap tidak sampai 200 hektare,” kata Bukhari.

Arsyad Rana (55) anggota kelompok tani lainnya asal Gampong Batee, Kecamatan Muara Tiga, menambahkan bahwa mereka merasa ditipu. Karena ongkos kerja kelompok tani tidak dibayar. Kelompok tani yang bekerja pada proyek tanam ubi itu berjumlah 20 kelompok. Jadwal bekerja diatur Keuchik Gampong Ingin Jaya. Anggota kelompok tani bekerja setiap hari tanpa dibayar upah jerihnya.

“Kami menuntut hak kami segera dibayar dari hasil panen ubi ini. Sebab, sesuai kesepakatan awal, lahan digarap oleh koperasi, sementara kelompok tani sebagai pekerja dengan ketentuan hasil dibagi dua saat panen. Namun nyatanya, hasil panen tidak dibagi dua. Kami juga minta pihak koperasi merincikan penggunaan dana Rp 2 miliar untuk proyek ini,” kata Arsyad.

Keuchik Gampong Ingin Jaya, Abu Bakar yang menjadi koordinator kelompok tani, Selasa (21/6) mengatakan, jumlah uang yang diperoleh dari hasil panen ubi tersebut hanya Rp 55 juta. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membayar utang biaya makan para pekerja sebesar Rp 41,7 juta.

“Uang tersebut juga untuk membayar utang kepada pekerja lapangan. Kini, sisa uang yang ada pada saya hanya Rp 10 juta. Uang tersebut hendak saya serahkan kepada warga saat rapat. Tapi, warga tidak mau menerimanya, dan kini uang itu masih saya simpan,” katanya.

Menurut Abu Bakar, seharusnya utang uang makan tersebut dibebankan pada dana Rp 2 miliar yang merupakan biaya operasional proyek tanam ubi tersebut, bukan dari hasil panen. Sebab, perjanjian awal, panen ubi ini dibagi dua antara koperasi dengan masyarakat.

“Karena koperasi merubah kesepakatan, saya pun menolak tandatangani berkas karena khawatir terjadi masalah. Selama tiga bulan saya tidak menandangani berkas yang diserahkan koperasi. Sehingga sebagian buah ubi membusuk,” katanya.

Abu Bakar mengaku sudah menemui pihak koperasi untuk membayar ongkos kerja kelompok tani. “Tapi, pihak koperasi tidak bersedia lagi membayar ongkos kerja itu, dengan alasan masalah ini telah sampai ke ranah hukum, yang dilaporkan oleh kelompok tani,” jelasnya.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved