Tersangka Korupsi WTP Sabang Bertambah

Tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Water Treatment Plant (WTP) atau instalasi pengolahan air di Pria Laot,

SABANG - Tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Water Treatment Plant (WTP) atau instalasi pengolahan air di Pria Laot, Kecamatan Suka Karya Sabang, yang diduga telah merugikan negara sebesar 2,6 miliar bertambah dua tersangka baru. Sebelumnya penyidik Polres telah menetapkan dua tersangka. Kedua tersangka baru itu adalah Nizwar selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Rifan Ramoda konsultan pengawas. Keduanya merupakan warga Kota Sabang.

Informasi bertambahnya tersangka kasus dugaan korupsi pekerjaan pembangunan instalasi air/WTP yang berlokasi di Pria Laot, Kecamatan Suka Karya, Sabang, itu disampaikan Kapolres Sabang, AKBP Slamet Wahyudi SIK MH dalam konferensi pers di Aula Mapolres setempat, Rabu (29/6).

Dalam temu pers itu Kapolres Slamet didampingi Waka Polres Kompol Waro Sidi, Kasat Reskrim AKP Erizal SE serta sejumlah perwira dan penyiidik lainnya. Dikatakan, kasus dugaan korupsi pekerjaan pembangunan WTP itu mulai diusut oleh penyidik Polres tahun 2014. Dalam penyelidikan itu polisi menetapkan dua tersangka, yakni Mahfud alamat Beurawe, Banda Aceh, sebagai Direktur PT Rah-Rah Red Wana Bhakti, dan Zulfadli alamat Gampong Cot Ba’U, Sabang,  sebagai pelaksana pekerjaan di lapangan.

Dari hasil pengembangan yang dilakukan, penyidik Polres kembali menetapkan dua tersangka baru, yaitu Nizwar sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Rifan Ramoda sebagai konsultan pengawas. Dengan bertambahnya tersangka baru, maka jumlah tersangka dalam kasus dugaan korupsi pekerjaan pembangunan WTP ini menjadi empat orang. “Tidak tertutup kemungkinan tersangka akan bertambah lagi,”katanya.

Seperti diketahui, PDAM Sabang, membuat perencanaan untuk melaksanakan pembangunan instalasi pengolahan air yang berlokasi di Jurong Pria Laot, Gampong Batee Shok, Kecamatan Suka Karya, yang sama persis dengan WTP yang sudah selesai dibangun di lokasi Aneuk Laot pada tahun 2011, dengan dana yang bersumber dari dana Otsus 2013 sebesar Rp 3.475.990.000 yang terdiri dari pembangunan WTP, pembangunan rumah pompa, pembangunan rumah jaga.

Dalam pelaksanaan proyek itu PT Rah-Rah Red Wana Bhakti sebagai pemenang lelang tidak membeli barang sesuai dengan kontrak proyek.

Sehubungan dengan itu penyidik telah meminta audit pekerjaan dari ahli. Hasilnya menolak pekerjaan tersebut, karena tidak sesuai dengan kontrak. Sebab, sesuai dengan hasil audit BPKP diketahui terdapat kerugian negara Rp 2.615.910.376.60.(az)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved