Menyoal Eskalasi Konflik Keagamaan

ARTIKEL ini membedah tentang fenomena sebagian masyarakat Aceh yang siap untuk mati demi

Menyoal Eskalasi Konflik Keagamaan
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad 

Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

ARTIKEL ini membedah tentang fenomena sebagian masyarakat Aceh yang siap untuk mati demi keyakinan mereka. Sejauh ini, gejala sosial keagamaan yang paling mutakhir di Aceh adalah naiknya eskalasi konflik keagamaan (radikalisme). Konflik terbuka atas nama agama semakin mencuat di provinsi ini, mulai dari perebutan pengelolaan tempat ibadah hingga rela mati demi mempertahankan ajaran agama diwariskan oleh tokoh-tokoh agama tertentu di Aceh. Bahkan, gejala siap mati pun sudah terjangkiti pada kelompok yang ingin mempertahankan “sunnah”.

Ajang siap mati ini pun, di mana pelaku, musuh, dan target yang harus “dijihadi” bakal terjadi antarsesama masyarakat Aceh. Hanya saja, amunisi kebencian cenderung dimulai dari pengaruh dari luar Aceh, khususnya setelah 2004. Selama 10 tahun terakhir, amunisi tersebut tersemai secara kontinu, di mana disadari atau tidak, telah bergeser dari paradigma “berebut paling saleh” hingga “berebut paling siap mati”. Dalam kategori “berebut paling saleh”, muncul kebencian antarsesama orang Aceh, baik dalam wacana maupun dalam ruang ibadah. Namun, ketika muncul “berebut paling siap mati”, ruang aktualisasi kebencian sudah muncul di tengah-tengah masyarakat.

Ketika muncul wacana “berebut paling siap mati” di antara masing-masing kelompok agama, memori kolektif orang Aceh, selalu merujuk sejarah Perang Cumbok. Kondisi hasrat saling membunuh antarasesama orang Aceh tersebut, semakin hari semakin banyak diperbincangkan, karena ingin mempertahankan diri dari kelompok yang “berebut paling siap mati.” Dalam beberapa bahasa masyarakat dijumpai ada yang siap mengasah parang, berangkat jihad, dan berlatih jika sewaktu-waktu mendapatkan serang dari kelompok musuh.

Amunisi kebencian
Amunisi kebencian pun mulai digali dari agama sampai pada hal-hal yang ada di dalam simbol-simbol dalam kelompok masing-masing. Ada kelompok yang “siap mati” demi sang tokoh pujaan, yang telah memberikan siraman ruhani ke sistem kebatinan mereka. Ada juga kelompok yang “siap mati” untuk menyeragamkan pola peribadatan ummat. Ada juga kelompok yang “siap mati” untuk mempertahankan keyakinan “sunnah” mereka, yang terkadang dicap sebagai gerakan sempalan oleh kelompok lainnya. Dapat dibayangkan, bagaimana kalau masing-masing kelompok tersebut bertemu di ruang publik, maka kekerasan antarsesama orang Aceh, sebagaimana terjadi dalam pengalaman Perang Cumbok.

Kendati konflik terbuka belum terjadi, seperti di Timur Tengah, namun gejala “bahasa batu”, “bahasa dendam”, dan “bahasa sesat” telah terjadi di Aceh dalam satu dekade terakhir. Ruang ibadah menjadi benteng untuk diperebutkan. Ruang kebatinan menjadi amunisi untuk saling menyalahkan. Ruang intelektual menjadi senjata untuk saling melemahkan sistem keyakinan. Pola adu domba seperti ini memang terjadi di Timur Tengah, di mana masing-masing kelompok amat mudah tersulut emosinya, jika sudah tidak ditemukan sikap dan sifat saling tasamuh di antara sesama umat Islam.

Pola mengimpor amunisi kebencian untuk menuju “paling siap mati” pun dilakukan secara tidak langsung oleh para pengambil kebijakan. Mereka gagal paham terhadap kondisi masyarakat Aceh yang sedang berubah dari gejala modernisasi ke post-modernisasi. Dalam gejala akhir ini, agama kembali berperan di dalam ruang publik. Agama begitu menarik melalui simbol dan ritual yang memiliki keseragaman. Aktualisasi agama bangkit bersamaan dengan kemunculan patologi sosial. Di sinilah kemudian masyarakat ramai-ramai kembali ingin “berebut paling saleh.” Singkat kata, agama menemukan momentumnya kembali, setelah fase modernisas selesai.

Orang kemudian harus pandai mengaktualisasikan kesalehan mereka, mulai dari ruang privat hingga ruang publik. Dalam konteks kekinian, ruang publik yang paling dominan adalah media sosial. Di situlah reproduksi “siapa yang paling saleh” dilakukan, baik oleh individu maupun oleh kelompok-kelompok keagamaan. Akan tetapi, begitu mereka “saleh” ruang-ruang aktualisasi kesalehan mereka diarahkan untuk mencari sebanyak mungkin, siapa yang berbeda pemahaman agama dengan mereka.

Pemerintah absen
Di ruang reproduksi musuh tersebut, pemerintah sama sekali absen. Sang guru pun enggan mengontrol dan mengkatrol maqam ilmu dan amalan murid-muridnya, supaya mampu menuju pada hakikat insaniah. Sang murid bebas melakukan interpretasi agama, asalkah tidak berlawanan dengan pemahaman guru atau tokoh ruhani mereka. Sang guru pun kemudian hanya “diam” ketika melihat aksi-aksi murid atau pengikut mereka. Uniknya, semakin alim, semakin banyak daftar musuh yang harus dibasmi. Semakin saleh dan taat dalam mengingat Allah, semakin banyak orang yang harus dihabisi. Semakin paham sifat Rasulullah, semakin banyak yang harus dikafirkan atau dimunafikkan.

Sejatinya, bagi yang sudah berilmu harus mampu memanusiakan manusia lainnya. Bagi yang saleh atau kuat amalan zikirnya, semakin mampu memperkuat hubungan ‘alam al-shagir dan ‘alam al-kabir di batinnya. Semakin merujuk pada kehidupan dan amalan Rasulullah, semakin terang hidupnya dengan cahaya Rasulullah. Dengan kata lain, tujuan mulia tersebut mampu mengarahkan seseorang pada sosok Muslim yang hakiki yang tidak meghalalkan darah sesamanya. Uniknya, di Aceh hasrat terpuji tersebut susah sekali muncul dan bahkan cenderung terarahkan pada situasi “berebut paling siap mati”.

Ketika keadaan “berebut paling siap mati” terjadi, maka sesungguhnya itu baru merupakan awal dari masalah besar umat Islam di Aceh. Karena kematian saudara kita tidak akan menyelesaikan masalah yang ada dalam benak kita terhadap mereka. Pengalaman berkonflik atas nama agama, selalu berujung pada kekalahan bagi mereka yang punya niat untuk membunuh terlebih dulu. Pengalaman konflik di Timur Tengah saat ini, menunjukkan bahwa tidak ada yang diuntungkan bagi umat Islam, ketika mereka berhasil diadu-domba. Dalam konteks ini, kelompok yang bukan Muslim malah yang menikmati setiap ujung dari kondisi “berebut paling siap mati.”

Tentu saja ummat Islam di Aceh tidak ingin berada di dalam situasi di atas. Kalau pun ingin berjihad, perangilah nafsu ingin membunuh orang lain di dalam diri kita. Kalau pun alim karena ilmu, kenalilah jiwa kita, supaya dengan begitu, kita paham jiwa orang lain. Kalaupun kuat amalan zikir kita, mintalah al-‘alam saghir dan ‘alam al-kabir mengendalikan sistem kosmologi di Aceh supaya menjadi dar al-salam. Jika kondisi ini tercapai, maka keinginan pihak yang hendak menjadikan Aceh seperti Timur Tengah saat ini, diharapkan tidak akan terjadi, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

* Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Dosen pada Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: abah.shatilla@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved