Ketika Penyair Dunia Membuai Tanah Hamzah Fanshury

LANTUNAN lagu ‘Saleum’ dirangkai dengan bait-bait puisi ‘Saleum Teuka’ oleh D Keumalawati menjadi

Ketika Penyair Dunia Membuai Tanah Hamzah Fanshury
SENIMAN yang meluncurkan buku puisi foto bersama pada malam pembukaan Temu Penyair Internasional di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat (15/7) malam. 

LANTUNAN lagu ‘Saleum’ dirangkai dengan bait-bait puisi ‘Saleum Teuka’ oleh D Keumalawati menjadi ‘menu’ pembuka ‘The First Aceh International Poet Summit of 8 Contries’ di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat (5/7) malam. Prosesi pembuka itu disempurnakan oleh penari dari sanggar Cut Nyak Dhien dengan hentakan ‘ranup lam puan’ yang dikenal sebagai welcome dance.

Malam itu, para penyair dari 8 negara berkumpul dalam rangka ekspresi dan apresiasi sastra. Salah satu lakon seni yang menggunakan kata sebagai ruh. Pembacaan puisi, peluncuran dan bedah buku, serta ziarah budaya menjadi agenda para penyair melawat di Tanah Hamzah Fanshury. Mereka datang dari Meksiko, Iran, Korea Selatan, dan dari tanah melayu yaitu Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan tuan rumah Indonesia.

Atase Kebudayaan dari Kedutaan Besar Meksiko, Luna Atzimba membacakan dua sajak gubahan pujangga negara itu. Dibawakan dalam bahasa Spanyol dan Indonesia. Begitu juga dengan delegasi asal negeri ginseng, Korea Selatan, Prof Yang Seung Yoon. Dua negara yang di Indonesia karyanya lebih populer dalam bentuk sinea berupa telenovela dan serial drama. Dari negeri-negeri Melayu ada Nik Abdul Rakib (Thailand), Raja Ahmad Aminullah (Malaysia), Anie Dien (Singapura), Zefri Ariff (Brunei Darussalam), Rida L Kaliansi (Indonesia). Sementara tuan rumah Aceh diwakili Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal.

Acara yang digagas Lapena tersebut menjadi ajang menghidupkan lagi sastra melayu yang pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Menyalakan kembali romantisme masa lalu saat sastra melayu berjaya dalam rentang abad ke-16. Sebelumnya, Zaini Abdullah menyambut langsung para pujangga dengan jamuan makan dan temu ramah. Salah satu budaya timur yang mengakar dan lestari hingga kini, tak terkecuali di Aceh yang dikenal dengan adat ‘peumulia jamee’.

“Kegiatan ini juga merupakan ajang memperkenalkan Aceh. Kita berharap dengan banyaknya penyair yang hadir akan banyak yang menulis dan mengungkapkannya dengan kata-kata indah tentang Aceh,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Reza Fahlevi kepada wartawan.

Ia berharap dengan adanya pergelaran budaya ini menjadi ajang bagi para penyair Aceh bertemu dan bertukar ilmu secara langsung dengan penyair dunia. Pihaknya baru-baru ini meluncurkan rebranding ‘Light of Aceh’ sebagai brand destinasi wisata halal. Menurutnya banyak sekali hikayat-hikayat lama Aceh yang ada, bahkan masih bisa dirasakan karya serta pengaruhnya hingga kini. Hamzah Fanshury, Teungku Chik Pante Kulu, Abdul Rauf As Singkili adalah legenda hidup para pujangga dari tanah Aceh.

Kini titisan darah pujangga itu diwariskan kepada para penyair seperti Fikar W Eda, Mahdi Idris, D Kemalawati, Salman S Yoga, LK Ara, dan lainnya. Antologi puisi mereka diluncurkan bersama para pujangga tanah air dan 7 negara lainnya yang berjumlah 27 buku. Seperti sajak gubahan Ramayani Riance dalam ‘Behrouz dan Pertunjukan Hujan’: Ku tulis puisi dari biru mata mu/ seperti rindu yang pasti/ Ku ikhlaskan seluruh kata/ menjelma dari hati mu// (nurul hayati)

Antologi Puisi:
1. Kidung Setangkai Sunyi (Mahdi Idris, Aceh, Indonesia)
2. Nyanyian Sukma (Rosni Idham, Aceh, Indonesia)
3. When You Went Away/Kau Pergi (LK Ara, Aceh, Indonesia)
4. Bayang Ibu (D. Kemalawati, Aceh, Indonesia)
5. White Orchid Gayo Oil (Salman S Yoga, Aceh, Indonesia)
6. Sepiring Mie Aceh Secangkir Kopi Gayo Bertalam Giok Nagan (Fikar W Eda, Aceh, Indonesia)
7. Jejak Jati Diri (TA Dadek dkk, Aceh, Indonesia)
8. Hujan di Atas Kertas (Larasati Sahara, Aceh, Indonesia)
9. Dari Negeri Daun Gugur (Ahmadun Yosi Herfanda, Indonesia)
10 Tirai Hujan Puisi 1500 Haiku (Arsyad Indradi, Kalimantan Selatan, Indonesia)
11. Kebenaran tanpa Rasa Takut/ Truth Without Fear (Sastri Bakri, Sumatra Barat, Indonesia)
12. Perempuan Bulan (Kunni Masrohanti, Riau, Indonesia)
13. Taneyan (Mahwi Air Tawar, Jawa Timur, Indonesia)
14. Mustika 40 Puisi (Ika Mustika, Indonesia)
15. Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu (Isbedi Stiawan Zs, Lampung, Indonesia)
16. Behrouz dan Pertunjukan Hujan (Ramayani Riance, Jambi, Indonesia)
17. Laut Maluku Lekuk Tubuhmu (Dino Umahuk, Maluku, Indonesia)
18. Setengah Perjalanan (Ibnu Wahyudi, Indonesia)
19.Dari Negeri Ironi (Ibnu Wahyudi, Indonesia)
20. Jejak Seoul (Maman S Mahayana, Indonesia)
21. Elegi Titi Gantung (Sartika Sari, Indonesia)
22. Air Mata Musim Gugur (Fakhrunnas Jabar, Indonesia)
23. Daun-Daun Bercinta (Rosmiaty Shaari, Malaysia)
24. Yang Seung Yoon/ Spirit Budaya dan Politik Korea (Prof Yang Seung Yoon, Korea Selatan)
25. Surat dari Awan (Siti Zainon Ismail, Malaysia)
26. Puisi Putih Sang Kekasih (Siti Zainon Ismail, Malaysia)
27. Bahtera Besar Siapa Punya (Rohani Din, Singapura)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved