Tangis Tiara di Tengah Kontroversi Videotron

ADA suasana beda pada aksi demo mahasiswa di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh

Tangis Tiara di Tengah Kontroversi Videotron
Tiara Sucia, salah seorang demonstran dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah menangis saat menceritakan kehidupan masyarakat miskin di Aceh saat melakukan aksi di depan Kantor Dinas Pendidikan Aceh, Senin (18/7/2016). Demonstran mempertanyakan proyek pengadaan videotron oleh Pemerintah Aceh yang dinilai tidak tepat guna dan berpotensi korupsi. SERAMBI/M ANSHAR 

ADA suasana beda pada aksi demo mahasiswa di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh, Senin kemarin. Seorang orator aksi bernama Tiara Sucia, tidak terlihat meledak-meledak. Dia tampak sendu, diam, dan menangis. Bulir air mata membasahi wajahnya.

Dibungkus jilbab hitam dan almamater kampusnya, Tiara terlihat sangat sedih. Sambil terisak, Tiara merangkai kata demi kata yang menggambarkan betapa prihatinnya kondisi pendidikan Aceh. Dia terus terisak. Rekan-rekannya tampak diam, hening sambil menatap sang orator.

“Biaya videotron yang bapak-bapak usulkan itu lebih delapan miliar, bapak-bapak tahu jika uang sebesar itu digunakan untuk membantu saudara-saudara kita di daerah terpencil akan sangat berguna. Masih banyak adik-adik kita di sana yang lebih membutuhkan, agar mereka bisa bersekolah,” ujar Tiara sembari mengusap air mata.

Kesedihan Tiara membuncah saat ia menceritakan pengalamannya ketika menyalurkan bantuan program 1.000 baju muslim plus perlengkapan sekolah seperti tas, baju, dan buku untuk anak yatim di kawasan Aceh Besar pada Ramadhan lalu.

“Kami antar langsung bantuan ke sana, rumah yang kami tuju adalah keluarga yang kurang mampu. Bapak-bapak tahu, semua anak-anak yang mendapatkan bantuan dari kami cukup gembira karena selama ini untuk pakaian sekolah saja mereka tidak punya,” ungkap mahasiswi semester akhir pada Fakultas Pertanian Unsyiah.

Dengan fakta-fakta seperti itu, Tiara mempertanyakan, “Masih maukah bapak-bapak melanjutkan program Rp 8,5 miliar itu. Tidakkah bapak-bapak membuka mata betapa masih prihatinnya kondisi pendidikan kita? Semoga uang Rp 8,5 miliar itu bisa mengucur untuk mereka-mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Mereka yang masih terjerat dengan ketidakmampuan membeli sepatu, tas, dan baju sekolah.” Semoga.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved