Opini

Pendidikan yang ‘Smart City’

KEPALA Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Darjo, mengatakan bahwa kehadiran videotron di Aceh

Oleh Misbahul Jannah

KEPALA Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Darjo, mengatakan bahwa kehadiran videotron di Aceh bagian upaya untuk mewujudkan Provinsi Aceh sebagai provinsi pendidikan yang smart city (Serambi, 19/7/2016). Saya membayangkan pendidikan yang smart city adalah suatu pendidikan dengan semua elemen di dalamnya seperti kualitas guru, sarana dan prasarana termasuk dalam kategori “cerdas”. Namun kenyataannya, kualitas pendidikan, terutama kualitas guru di Aceh jangankan masuk dalam kategori cerdas, kategori sedang saja belum didapatkan. Bahkan, berada pada kategori yang rendah, yaitu di urutan 32 dari 34 provinsi di Tanah Air.

Sistem pendidikan yang smart city seharusnya lebih kreatif, inovatif dan edukatif, serta lebih baik dari kota-kota lain yang notabene tidak masuk dalam kategori smart city. Untuk mewujudkan pendidikan yang smart city tidak harus melalui videotron, namun ada hal lain yang jauh lebih urgen, yaitu peningkatan kualitas guru dan sarana prasarana yang berhubungan langsung dengan pembelajaran. Peningkatan kualitas guru merupakan satu aspek dari pendidikan yang smart city, yaitu melalui pelatihan pembelajaran, ICT dan penelitian yang diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan penelitian yang inovatif.

Selain itu, sarana prasarana yang berhubungan langsung dengan pembelajaran juga harus memadai di setiap sekolah di kota maupun di pelosok. Melalui sarana prasarana pendidikan yang memadai diharapkan mampu membuat suatu program untuk merangsang proses pembelajaran yang berkualitas dan menghasilkan penelitian yang berkelas nasional maupun internasional. Namun kenyataannya masih ada sekolah di Aceh yang tidak layak untuk disebut sekolah, seperti SMP Merdeka di Gampong Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, yang hanya memiliki dua orang guru, tanpa pustaka dan dengan kelas yang amburadul serta kondisi fisik sekolah layaknya gubuk (Serambi, 19/7/2016).

Belajar dari Malaysia
Dalam membangun pendidikan yang smart city di Selangor (Malaysia) contohnya, melakukan lima hal: Pertama, peningkatan kualitas guru. Peningkatan kualitas guru dilakukan melalui pelatihan model pembelajaran yang terkini, pelatihan ICT, pelatihan tentang kurikulum dan sebagainya. Hal yang membedakan antara pelatihan yang dilakukan di Malaysia dengan negara kita adalah dalam hal desiminasi.

Guru-guru di negara jiran tetangga kita tersebut, setelah mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh akan membagi ilmu yang telah didapatkan kepada guru-guru lainnya di sekolah mereka yang tidak mengikuti pelatihan. Harapannya semua guru memiliki pengetahuan baru untuk selanjutnya dapat diterapkan di sekolah secara menyeluruh. Hal ini jauh berbeda dengan model pelatihan guru di Aceh yang hampir tidak punya dampak positif dari pelatihan yang mereka terima.

Kedua, guru-guru dilatih untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas. Semua guru diharapkan setelah mengikuti pelatihan dapat menghasilkan karya ilmiah yang di publish baik nasional maupun internasional. Bahkan negara siap memfasilitasi guru untuk mempresentasikan karya mereka di luar negeri sekalipun. Kondisi seperti ini sangat langka ditemukan Aceh.

Ketiga, guru-guru di Malaysia diberikan beasiswa oleh kerajaan untuk melanjutkan studi demi menunjang peningkatan kualitas guru dalam empat kategori. Kategori pertama, beasiswa penuh dan gaji penuh. Kedua, beasiswa penuh tanpa gaji. Ketiga, gaji penuh tanpa beasiswa dan keempat pinjaman dana dari kerajaan dan dibayarkan secara cicilan setelah selesai kuliah.

Keempat, sarana prasarana pendidikan lengkap, seperti alat-alat laboratorium, ruang kelas dan ruang guru yang nyaman. Beberapa sekolah kebangsaan yang saya kunjungi memiliki fasilitas yang wah. Sekolah ini layaknya kampus di Aceh bahkan lebih bagus. Dalam satu kesempatan pelatihan STEM (Science Technology Engeneering and Mathematics) di sekolah menengah di Selangor saya melihat fasilitas untuk pelatihan ini sudah tersedia, misalnya, solar panel yang digunakan untuk eksperimen mobil tenaga surya. Padahal, pembelajaran STEM merupakan model pembelajaran terbaru dalam kurikulum di Malaysia. Model pembelajaran STEM di Indonesia sendiri masih dalam wacana.

Kelima, majelis profesor negara setiap tahun melakukan monitoring dan evaluasi tentang peningkatan kualitas pendidikan di Malaysia, yang diselenggarakan di universitas-universitas Malaysia secara bergilir. Kegiatan ini dinamakan dengan Meja Bulat Majelis Professor Negara. Hasil dari pertemuan ini menjadi referensi penting kementerian pendidikan Malaysia dalam mengambil kebijakan peningkatan kualitas pendidikan di negara itu ke depan.

Bercermin dari Malaysia, dalam mewujudkan pendidikan yang smart city di Aceh, tidak serta merta fokus pada penyediaan videotron. Kita berharap peningkatan kualitas guru dan sarana prasarana yang berhubungan langsung dengan pembelajaran lebih diutamakan karena melalui peningkatan kualitas guru dan sarana prasarana yang memadai dapat mewujudkan pendidikan yang smart city yang sesungguhnya. Apabila kualitas guru baik dan sarana prasarana memadai, maka dengan sendirinya Aceh akan menjadi satu provinsi pendidikan yang smart city. Semoga!

* Dr. Misbahul Jannah, M.Pd., Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: misbahulj@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved