Breaking News:

Uniknya Rupa-Rupa Tarian Etnik dalam Festival Kepulauan Banyak

Tari ini merupakan warisan jaman Belanda, yang membaur dalam khasanah budaya lokal masyarakat Kepulauan Banyak.

SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Tari ini merupakan warisan jaman Belanda, yang membaur dalam khasanah budaya lokal masyarakat Kepulauan Banyak. 
Laporan Dede Rosadi dan Nurul Hayati

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Lenggak lenggok remaja putra putri berpakaian hitam kombinasi orange menari watang lae, dalam Festival Budaya Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, Minggu (24/7/2016) malam, menyedot perhatian penonton. 
Tarian itu diilhami kisah nyata, seorang pencari lokan (kerang) di sungai Singkil, mati dimangsa buaya. 

Penonton ikut bersemangat manakala penari dari sanggar Sekata Sepekat itu menghentak panggung
Namun suasana seketika berubah menjadi duka ketika penari mengangkat jenazah korban buaya. 
Maklum lakon sedih yang dimainkan para penari masih melekat di ingatan warga. Sajian lain yang memikat penonton tari lanser. 
Tari ini merupakan warisan jaman Belanda, yang membaur dalam khasanah budaya lokal masyarakat Kepulauan Banyak. 
Pemainnya pasangan remaja, yang laki-laki mengenakan seragam hitam putih plus selempang.
Sementara remaja putri dibalut pakian adat.

Gerak gerik penari lanser mengikuti komando berbahasa Belanda, yang diteriakan lelaki paruh baya bernama Aripin. 
Hanya Aripin-lah yang mampu memandu tari bangsa penjajah Indonesia itu. 
Ia merupakan generasi keempat yang masih tersisa, setelah pendahulunya tiada. Menyaksikan tari lanser, imajinasi penonton hanyut dalam romantisme bergaya eropa. 
Namun tanpa melunturkan nilai estetika ketimuran, lantaran semua penari remaja wanita berpakaian adat setempat plus balutan rapat jilbab sebagai penutup aurat.      
 
Festival Budaya Kepulauan Banyak, dibuka dengan penampilan tari adot. 
Menurut kepercayaan warga setempat, penari lain tidak boleh tampil sebelum sang raja selesai menari adot. 
Tari adot sudah lama menghilang, sehingga sangat beruntung bagi penonton yang hadir dapat menyaksikannya kembali.

Selanjutnya berturut-turut penari dari berbagai sanggar di Pulau Banyak tersebut, menyajikan tari serampang 12, tari pulau pinang dan tari bungkus.
Acara pun ditutup dengan sajian tari mainang.  
Daya tarik wisata

Kebudayaan Kepulauan Banyak tersebut, akan menambah daya tarik masuknya wisatawan ke Ujung Barat Indonesia. 
Turis tidak hanya dimanjakan dengan pemandangan pulau-pulau eksotik, tetapi dapat menikmati lenggak lenggok penari adat.

Harapan itulah yang mendorong DPD II KNPI Aceh Singkil, menggelar  festival budaya Kepulauan Banyak bekerjasama dengan Disbudpar Aceh dan Pemkab setempat. 
Sehubungan dengan itu Gubernur Aceh, Zaini Abdullah yang membuka acara meminta kesenian adat dapat ditampilkan saatsetiap tamu datang. 
“Festival budaya untuk mempromosikan pariwisata ke dunia internasional. Setiap tamu datang tunjukan,” harapnya.

Keragaman budaya merupakan satu dari daya tarik wisata tanah air.

Termasuk di dalamnya tarian etnik yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat.

Menjadi bagian dari ritual adat yang diwariskan secara turun temurun dan lestari hingga kini. (*)
Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved