Pekerja Bantuan Diduga Minta Pengungsi Muslim Pindah Agama

"Ini masalah besar karena banyak warga Muslim dan mereka tidak ingin mengubah agama mereka,"

Pekerja Bantuan Diduga Minta Pengungsi Muslim Pindah Agama
Milos Bicanski/Getty Images
Moria merupakan salah satu fasilitas penahanan pencari suaka di Lesbos, Yunani, di bawah kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa yang dikritik banyak lembaga bantuan dan HAM, seperti Dokter Lintas Batas, Amnesty International dan PBB. (Milos Bicanski/Getty Images) 

SERAMBINEWS.COM -- Petugas bantuan beragama Kristen yang bekerja di pusat penahanan pencari suaka paling terkenal di Yunani dituding mencoba membuat para pengungsi Muslim berpindah agama.

Diberitakan The Guardian pada Selasa (2/8), terdapat setidaknya dua kali kesempatan dalam beberapa bulan terakhir di mana para pekerja bantuan menyalurkan salinan aplikasi pemindahan agama berbahasa Arab dari Injil St. John untuk pengungsi yang ditahan di kamp Moria di Lesbos.

Kertas aplikasi tersebut, yang berhasil didapatkan The Guardian, meminta para pencari suaka untuk menandatangani pernyataan yang menyatakan, "Saya tahu saya seorang pendosa, saya meminta Yesus untuk mengampuni dosa-dosa saya dan memberikan saya hidup yang kekal. Keinginan saya adalah mencintai dan mematuhi firman-Nya."

Pencari suaka Muslim yang menerima booklet kecil tersebut menilai bahwa upaya para pekerja bantuan tersebut "tidak pantas."

"Ini masalah besar karena banyak warga Muslim dan mereka tidak ingin mengubah agama mereka," kata Mohamed, seorang pengungsi asal Damaskus.

"Mereka mencoba melakukan ini selama bulan Ramadan, bulan yang paling suci bagi Muslim," ujarnya.

Pengungsi asal Suriah lainnya, Ahmed, menyatakan, "Kami menyukai semua agama, tetapi jika Anda beragama Kristen, dan saya memberikan Anda Al-Qur'an, bagaimana perasaan Anda?"

Para pengungsi menyatakan bahwa booklet tersebut didistribusikan oleh setidaknya dua petugas dari Euro Relief, lembaga bantuan dari Yunani yang aktif memberikan bantuan terbesar di Moria setelah sejumlah lembaga bantuan lainnya hengkang dari pusat penahanan Moria.

Pasalnya, Moria merupakan salah satu fasilitas penahanan pencari suaka di bawah kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa yang dikritik banyak lembaga bantuan dan HAM, seperti Dokter Lintas Batas, Amnesty International dan PBB.

Kamp Moria sendiri diawasi langsung oleh kementerian imigrasi Yunani, namun pengaturan kamp ini sebagian besar dilakukan oleh berbagai kelompok bantuan.

Halaman
123
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved