Breaking News:

Opini

Tausiah bagi Jamaah Haji

HAJI, yaitu mengunjungi Baitullah di Mekkah al-Mukarramah, Arab Saudi, untuk melakukan thawaf,

Ketiga, saling membantu (ta’awun). Saling membantu di antara sesama jamaah, tanpa harus menunggu diminta, seperti membawa barangnya, membawanya ke rumah sakit, atau menjenguknya di rumah sakit, mencari alamatnya ketika sesat jalan, memberikan tempat yang mudah dijangkau terutama bagi jamaah yang tua dan ‘uzur. Yakinlah semakin sering membantu orang lain di tanah suci, semakin Allah mudahkan bagi dirinya.

Keempat, fokuskan dalam ibadah. Usahakan setiap diri lebih banyak di masjid daripada di pasar. Selalu shalat berjamaah baik di Madinah maupun ketika berada di Mekkah, isi waktu lowong dengan membaca Alquran, berzikir dan lainnya. Usahakan pula berdoa terutama pada tempat-tempat mustajabah doa.

Kelima, selalu bersikap sabar. Sabar sesuatu yang sulit, tapi dengan sikap sabar semua aktivitas menjadi indah. Sabar dengan keluarga sendiri, sabar dengan sesama jamaah, sabar menunggu waktu, sabar dalam menjalankan ibadah, sabar bila pemondokan agak jauh dengan masjid dan seumpamanya. Jangan melakukan jidal, rafats, dan fusuq, karena semua itu dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala ibadah.

Dosa terampuni
“Man hajja falam yarfats wa lam yafsuq raja’a kayaumin waladadhu ummuhu”, Barang siapa melaksanakan ibadah haji dan tidak melakukan perbuatan rafats atau mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi atau bersetubuh, dan tidak berbuat fasiq (kedurhakaan), maka ia pulang (setelah melaksanakan ibadah haji) seperti saat ia dilahirkan (dari rahim) ibunya (suci tidak berdosa) (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini merupakan penegasan firman Allah Swt, “Siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasiq dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. al-Baqarah: 197).

Rafats dalam ayat ini dimaksudkan: (a) tidak melakukan jimak dengan isterinya, ketika ia dalam keadaan berihram baik ihram untuk umrah maupun haji; (b) tidak lagi berkata kotor terhadap teman-temannya atau sesama jamaah. Sedangkan dimaksud dengan fasiq adalah khuruj ‘anil haq (keluar dari kebenaran) dan khuruj ‘anil millah (keluar dari agama). Di samping itu juga tidak melakukan jidal atau pertengkaran sesama jamaah.

Menurut Al-Qurtubi, haji yang mabrur ialah haji yang dapat disempurnakan hukum-hukumnya dan dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, melaksanakannya sesempurna mungkin, sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Jadi haji mabrur, adalah haji yang baik, sempurna dan diterima di sisi Allh swt.

Setiap calon jamaah haji yang berangkat, tidak ada harapan lain selain ibadahnya sempurna baik rukun, syarat maupun sunat dan akhirnya kembali meraih haji mabrur. Kemabruran tidaklah karena banyaknya handai taulan datang untuk “pesijuek” hampir setiap hari, bukan pula karena banyaknya keluarga dan ahli famili yang mengantarkannya dengan “tawa” dan “tangis”. Tapi kemabruran itu sangat ditentukan “nawaitu”nya dalam melaksanakan ibadah baik sejak saat berangkat maupun ketika melakukan manasik (ibadah) di tanah suci.

Rasulullah saw bersabda, “al-hajjul mabrur laitsa lahul jaza' illal jannah”, Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga (HR. Bukhari Muslim). Bahkan semua keluarga, handai taulan ikut mendoakannya ketika melepas keberangkatan, “Allahumma hajjan mabrura, wasa’yan masykura wa dzanban maghfura wa tijaratan lan tabura.” Tidak cukup dengan do’a diiringi pula dengan talbiyah, “Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika labbaik, innal hamda wannikmata laka wal mulk la syarikalak.” (Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat hanayalah milik-Mu dan tidak ada sesuatu yang menyamaimu ya Allah).

Kami hanya mengantarkan dengan iringan doa, selamat jalan, para dhuyufullah, berangkatlah untuk mengunjungi Baitullah, beribadah di sekeliling Kakbah, semata-mata mengharapkan ridha-Nya. Jagalah dirimu dari rafats, jangan pula fusuq dan jidal, dengan harapan bisa melaksanakan semua rukun, wajib dan sunat haji, dan akhirnya bisa meraih haji mabrur. Amin ya Rabbal ‘alamin.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan Anggota MPU Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved