Bocah Suci

Bocah itu menenteng rantang dan berjalan di tengah hutan sendirian. Barangkali anak-anak sebayanya masih meringkuk di atas kasur

Karya Nanda Winar Sagita

Bocah itu menenteng rantang dan berjalan di tengah hutan sendirian. Barangkali anak-anak sebayanya masih meringkuk di atas kasur sembari menahan perih karena kulupnya baru saja disunat. Tetapi Bocah itu sudah melihat dunia yang belum tentu semua orang dewasa pernah menyaksikannya.Baginya bukan lagi sebuah rahasia, bahwa berjuang dan mati syahid, jauh lebih agung dibandingkan tidur nyaman di atas ranjang empuk dan hanya berdoa sambil berharap untuk mendapatkan hal yang sama.

Perang yang berkecamuk membuatnya harus meninggalkan bangku sekolah dan memilih jalan yang pada mulanyatidak direstui oleh keluarganya.Kedua orangtuanya adalah sosok yang sangat dihormati di kampung. Ayahnya seorang teungku dan ibunya adalah guru di sebuah SD yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sedari kecil, bocah itu sudah dididik untuk mendalami agama dan hidup dengan akal yang sehat. Oleh karena itu, dia mulai berpikir jernih untuk melakukan perjuangan abadi dengan melakukan tindakan masuk akal yang direstui oleh Tuhan.

“Ayah. Izinkan aku menjadi syuhada,” katanya.

“Kau masih terlalu muda, Nak. Ada banyak hal yang belum pernah kau lihat,” kata ayahnya.

“Tetapi bukankah ayah sendiri yang mengatakan bahwa segalanya hanya tersedia di surga,” katanya.”Saya pikir, banyak hal juga ada di sana”.

Ayahnya tercenung sangat lama mendengar ucapan polos bocah itu. Dia ingin memberikan restu, tetapi keburu dipotong oleh ibunya. “Lantas bagaimana caramu bertahan hidup, Nak,” kata ibunya. “Aku tidak sudi kamu menjadi peminta-minta”.

“Saya akan bekerja, Bu. Setidaknya saya akan menjadi penggembala domba dan berjuang bersama para calon syuhada lainnya, sembari menunggu waktu yang tepat untuk menyambut ajal”.

Mendengar alasan itu, akhirnya ibunya luluh juga dan mengizinkan bocah itu turut serta bersama orang-orang gunung untuk memperjuangkan dua kemenangan yang mereka anggap penting, yaitu kemerdekaan dan mati syahid. Sejak saat itulah, bocah itu mulai keluar masuk hutan dan mengorbankan masa-masa paling indah dalam hidupnya. Sehingga dia bertanggung jawab untuk menyimpan sebuah rahasia yang tidak akan mampu dipikul oleh pria paling tangguh sekalipun

Tatkala sedang menikmati perjalanan pulang setelah menyelesaikan tugasnya di tengah-tengah belantara rimba yang liar, salak anjing hutan terdengar bersahut-sahutan. Dia sudah akrab dengan suara itu, sehingga tidak ada alasan untuk merasa ketakutan. Tanpa harus memahami penjuru mata angin, arah jalan pulang sudah terpatri di dalam ingatannya. Namun aura mencurigakan mulai tercium saat dia hampir tiba di tepi sebuah sungai. Setelah mendengar lolongan ajak yang berhenti secara mendadak, bocah itu sudah tahu bahwa dia sedang dibuntuti oleh seseorang.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved