Takzim ke Guru, Budaya Akademik di Dayah

Hormat atau takzim kepada guru merupakan budaya akademik yang hingga kini masih bertahan

Takzim ke Guru, Budaya Akademik di Dayah
SERAMBINEWS.COM/ARIF RAMDAN
Santri dayah Babussalam, Al Aziziyah, Jeunieb, Bireuen saat dihukum di halaman karena terlambat shalat berjamaah di masjid 

BANDA ACEH - Hormat atau takzim kepada guru merupakan budaya akademik yang hingga kini masih bertahan pada keseharian pada dayah di Aceh. Satu keadaan yang terus terjaga pada saat tatakrama ini mulai terkikis di sekolah umum atau perguruan tinggi.

Kelebihan budaya akademik di dayah juga tidak melahirkan lulusan atau santri yang melaporkan gurunya kepada polisi saat mereka mendapat hukuman atas pelanggaran saat menimba ilmu. Santri tak dendam dan yakin setiap bekas pukulan dari hukuman yang diterima tak akan dibakar oleh api neraka.

Demikian beberapa poin hasil penelitian yang dipresentasikan Silahuddin pada sidang terbuka promosi doktor Program Pascarsajana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (11/8). Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN ini meneliti dayah dengan judul desertasi “Budaya Akademik pada Dayah Salafiyah di Aceh Besar.”

Meski demikian, Silahuddin juga memberi masukan bagi pengembangan kurikulum dayah agar terus berdaya saing dengan membuka diri menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi untuk saling mendukung dan melengkapi kekurangan kelebihan.

Silahuddin yang pernah menuntut ilmu di Dayah Daruzzahid Lamche, Kuta Baro, Aceh Besar mengatakan, salah satu tujuan penulisan desertasinya adalah agar dayah bisa mempertahankan kemajuannya seperti pada masa dulu.

“Dulu dayah banyak melahirkan intelektual dan pemimpin umat. Sehingga dayah menjadi rujukan semua pihak,” katanya kepada Serambi, kemarin.

Menurutnya, banyak budaya akademik di dayah yang bisa diadobsi oleh lembaga pendidikan lain. Seperti budaya belajar, budaya pengembangan keilmuan, budaya memberi pendapat dan budaya berorganisasi.

Hasil penelitiannya itu kemudian merekomendasi beberapa hal agar dayah dapat terus berkiprah dalam menghadapi era globalisasi saat ini. “Di samping mempertahankan yang sudah ada, dayah juga perlu melakukan beberapa inovasi seperti inovasi kurikulum, metodologi belajar, dan memberi life skill kepada santrinya,” ungkapnya.

Promotor dari disertasi yang ditulis Silahuddin antara lain, Prof Dr Jamaluddin Idris MEd dan Prof Dr M Nasir Budiman MA. Ujian terbuka itu menghadirkan penguji antara lain, Rektor UIN Ar-Raniry sekaligus ketua sidang, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA, Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Dr Rusjdi Ali Muhammad SH, Prof Dr M Hasbi Amiruddin MA, dan Prof Dr Abdul Mukti MA, guru besar UIN Sumatera Utara.(ari)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved