Mudah Tetapi Sering Salah
Mudah tetapi sering salah, barangkali ungkapan ini cocok untuk menggambarkan sikap berbahasa
Oleh Rahmat, S.Ag., M.Hum. Staf Peneliti Balai Bahasa Provinsi Aceh
Mudah tetapi sering salah, barangkali ungkapan ini cocok untuk menggambarkan sikap berbahasa penduduk Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini terhadap bahasanya sendiri.
Dikatakan mudah, karena memang bahasa Indonesia adalah termasuk salah satu bahasa yang ejaannya praktis dan sederhana sehingga bahasa Indonesia mudah dipelajari. Akan tetapi, justru dikarenakan anggapan inilah, kebanyakan penutur bahasa Indonesia sering melakukan kesalahan- kesalahan dalam rutinitas berbahasa seharihari mereka.
Banyak contoh kesalahan yang dapat kita temukan dalam rutinitas berbahasa kita sehari-hari. Akan tetapi, pada umumnya kebanyakan penutur bahasa Indonesia tidak menyadari kesalahankesalahan yang justru mereka pertahankan.
Barangkali, mereka tidak menyadari akan kesalahan berbahasa yang ereka lakukan karena mereka menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat mudah. Anggapan ini setidaknya menjadikan mereka mungkin berbahasa Indonesia dengan baik tetapi belum tentu benar sesuai dengan tatabahasa baku bahasa Indonesia itu sendiri.
Kesalahan-kesalahan dilakukan meliputi pelbagai unsur yang di antaranya akan kita bahassederhana dalam tulisan ini. Pertama, kita sering menemukan kesalahan-kesalahan dalam pemungutanunsur serapan yang dipungut dari bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Belanda.
Dalam memungut unsur serapan dari bahasaasing dan daerah, tentunya terdapat kaidah-kaidah yang semestinya diperhatikan. Halini dilakukan supaya unsur yang diserap tersebut tidak salah dan sesuai dengan kaidahtatabahasa Indonesia. Kita sering menemukan kesalahan penulisan unsur bahasa Indonesia yang kita pungut dari bahasa asing, seperti Pebruari (seharusnya Februari), Nopember(seharusnya November), positip (seharusnya positif), aktifitas (seharusnya aktivitas). Ada beberapa ketentuan yangperlu kita perhatikan di dalam penulisan unsur serapan Bahasa Indonesia. Pertama, huruf f dan v ditetapkan sebagai huruf dalam abjadIndonesia. Tidak lagi dianggap sebagai huruf asing dalam ejaan Bahasa Indonesia.
Karena itu, kata asing yang berhuruf atau v jika diindonesiakan, maka huruf-huruf itu tidak diganti dengan p, melainkan tetap saja f dan v. Kedua, Pengindonesiaan katakata sing berpegang pada pendirian sedapat mungkindekat pada ejaan aslinya.Hanya yang perlu diubah yang diubah atau diganti. Kesalahan kedua yang dapat penulis amati adalah penulisan awalan pe- yang salah. Penulisan kata pedagang wanita, pelayan wanita, emeras wanita dan penipu wanita adalah sebagian contoh kesalahan dalam penulisan awalanpe-. Jika dimaksudkan bahwa wanita sebagai pedagang, pelayan, pemeras, penipu, merupakan bentuk yang tidak tepat.
Awalan pe- mengandung pengertian ‘orang yang me….’ sehingga wanita di belakangkata-kata yang berawalan peitu merupakan objek. Jadi, pedagang wanita berarti ‘orang yang memperdagangkanwanita, orang yang melayani nafsu seks wanita, orang yang melakukan pemerasan kepada wanita, dan orang yang menipu wanita. Jika dimaksudkan wanita yang pekerjaannya/kebiasaannyaberdagang, melayani, memeras, menipu, maka susunannya eharusnya dibalik menjadi wanita pedagang, wanita pelayan, wanita pemeras, dan wanita penipu.
Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Ungkapan ini,ditinjau dari sifat bahasa Indonesia, terdapat dua kesalahan. Pertama, susunan lain kesempatan tidak engikuti aturan susunankata dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia ukuran yang penting yaitu yang diterangkan harus terletak di depan; bagian sebagai keterangan diletakkansetelahnya (susunan DM). Susunan lain kesempatan beranalogi kepada makna lain kali muncul sebagai terjemahan harfiah bahasa Belanda andere keer (ander = lain; keer = kali).Kedua, kata depan di tidak digunakan di depan kata benda abstrak, tetapi di depan kata benda kongkret seperti di toko dan di rumah.
Seharusnya, kata pada yang digunakan bukan kata di. Misalnya, pada pendapatku, pada hemat saya. Dilihat dari segi gramatika, frasa sampaijumpa tidak tepat. Kata jumpa merupakan sinonimkata temu atau kata sua. Ketiga unsur itu sama-sama merupakan bentuk terikat.
Oleh karenanya, frasa itu menjadi sampai bertemu dan sampai bersua. Demikianjuga dengan bentuk sampai jumpa, hendaknya sampai berjumpa. Jadi, ungkapan yang benar adalah sampai berjumpa lagi pada kesempatan lain.