Ibadah Haji 2016

Sejumlah JCH Aceh Dehidrasi

Sejumlah jamaah calon haji (JCH) asal Aceh dilaporkan mulai terserang dehidrasi dan depresi

MADINAH - Sejumlah jamaah calon haji (JCH) asal Aceh dilaporkan mulai terserang dehidrasi dan depresi, sebagai dampak dari tingginya suhu udara di Kota Madinah, rata-rata 38-40 derajat Celcius. Tim kesehatan mengimbau jamaah untuk memperbanyak minum dan menjaga kebugaran tubuh.

Sementara itu, Senin (15/8) kemarin, jamaah haji asal Indonesia, termasuk Aceh, melakukan kunjungan ke beberapa Masjid Quba, Qiblatil, kebun kurma dan Jabal Uhud. “Kegiatan ziarah ini berlangsung pukul 7 sampai pukul 11 waktu Madinah,” lapor Wartawan Serambi Indonesia, Herianto, dari Madinah, malam tadi.

Menurutnya, jadwal singkat itu dilakukan supaya para jamaah tidak terlambat tiba kembali di Masjid Nabawi, Madinah untuk melaksanakan shalat Zuhur dan shalat lima waktu lainnya agar shalat Arbain (40 rakaat) jangan sampai terputus.

Terkait kondisi kesehatan jamaah, Herianto melaporkan, sejumlah jamaah Aceh yang berusia di atas 60 tahun, terserang dehidrasi dan depresi. Seperti yang dialami Khadijah (64), calhaj Kloter I Aceh Besar. Ia baru tiga hari berada di Madinah, tapi sudah dua kali dirawat di Balai Kesehatan Haji Indonesia (BKHI), karena dehidrasi dan depresi.

Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Kloter II Aceh, dr Rahmad mengatakan, calhaj yang dehidrasi umumnya karena kurang minum air putih setiba di Madinah. Suhu udara di kota hijrah Nabi Muhammad ini sudah berada di atas 40 derajat Celcius. Bagi penduduk Indonesia suhu itu tentu cukup panas. “Maka untuk mengatasinya perlu banyak minum dan harus sering menyemprotkan air ke muka dan kepala, supaya tetap lembab,” wejang dr Rahmad.

Hingga Minggu sore, Khadijah masih dirawat di BKHI. Kabar terakhir pukul 22.00 WIB tadi malam, Khadijah sudah diperbolehkan kembali ke pemondokan.

Cut Hasanah Nur, calhaj asal Kota Banda Aceh yang sempat dirawat di BKHI Madinah pada Sabtu sore akibat alergi dengan obat antibiotik yang diberikan dokter, juga sudah diizinkan kembali ke pemondokannya pada Minggu pagi.

Sementara itu, calhaj Marsiem yang harus menjalani katerisasi jantung pada hari Jumat, hingga Minggu sore belum diizinkan kembali ke pemondokannya.

Kepala Dinas Syariat Islam, Prof Dr Syahrizal Abbas MA didampingi Kepala Biro Isra Setda Aceh, Dr Munawar A Jalil MA yang diutus Gubernur Aceh untuk memantau pelayanan yang diberikan Panitia Haji Kemenag untuk calhaj Aceh di Madinah mengatakan, masalah pelayanan kesehatan bagi calhaj sampai kini masih belum maksimal. Hal ini disebabkan tim medis yang terdiri atas satu orang dokter umum dan dua perawat yang mendampingi satu kloter yang jumlahnya 393 orang, belumlah ideal.

“Karena itu, pada musim haji tahun depan perlu dilakukan penambahan minimal satu atau dua orang dokter lagi bersama perawatnya,” kata Syahrizal.

Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda mengatakan, pelayanan kesehatan yang diberikan tim medis Menkes bagi para calon haji dari Indonesia belum maksimal. “Calhaj masih mengeluh soal pelayanan kesehatan. Jumlah dokter dan tim medis yang ditugaskan masih sangat minim. Satu kloter yang berjumlah 393 jamaah hanya ada satu dokter dan dua orang perawat,” kata Sulaiman Abda.

Tim medis yang ditugaskan juga terkadang tak 100 persen full melayani calhaj. “Ketika ada calhaj yang sakit minta bantuan, tim medis tidak maksimal melayaninya, bahkan ada yang menyatakan tunggu pulang shalat dari Masjid Nabawi. Idealnya, dokter dan tim medis yang ditunjuk, tidak melakukan rukun haji, sehingga ia full melayani para calhaj,” kata Sulaiman Abda yang juga Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Aceh.

Sulaiman mengatakan, jika dana Menkes terbatas untuk menambah petugas medis haji untuk Indonesia, Pemerintah Aceh perlu menambahnya melalui sumber pembiayaan APBA, seperti yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, menambah seorang dokter untuk setiap kloter haji dari daerahnya.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved