Breaking News:

2.810 Pasangan belum Punya Buku Nikah

Sedikitnya 2.810 pasangan suami-istri yang sudah menikah di Kabupaten Pidie hingga kini

Editor: bakri

SIGLI - Sedikitnya 2.810 pasangan suami-istri yang sudah menikah di Kabupaten Pidie hingga kini belum memiliki akta nikah, sehingga perlu dilakukan isbat untuk memperoleh dokumen negara tersebut. “Jika tidak memiliki buku nikah, maka mengurus akta kelahiran anak tidak bisa. Administrasi urusan naik haji pun butuh akta nikah,” kata Bupati Pidie H Sarjani Abdullah saat membuka sidang isbat nikah di Pendapa setempat, Kamis (18/8).

Kepala Dinas Syariat Islam Pidie, Drs Mukhtar Ahmad dalam laporannya mengatakan, sebelumnya diperkirakan ada 3.000 lebih pasangan di Pidie yang belum memiliki buku nikah. Lalu, pada tahun 2014 dan 2015 sudah dilakukan isbat nikah untuk 140 pasangan. Selanjutnya, pada tahun 2016, dilakukan sidang isbat nikah terhadap 50 pasangan, sehingga tersisa sekitar 2.810 pasangan. Mereka yang dinikahkan antara lain korban konflik, korban tsunami, dan penduduk miskin.

Dikatakan Mukhtar, data yang sebenarnya tidak bisa dipastikan berapa pasangan yang belum dapat buku nikah. Angka 2.810 pasangan hanya perkiraan sementara berdasarkan data yang sudah masuk. “Jumlah yang sebenarnya bisa jadi lebih banyak dari itu. Ini hanya data perkiraan yang disampaikan oleh relawan kepada kita,” kata Mukhtar Ahmad.

Sementara itu, prosesi isbat nikah yang digelar di Pendapo Bupati Pidie kemarin difasilitasi Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh. Kegiatan ini dibantu juga oleh Mahkamah Syar’iyah Sigli, Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Pidie, dan Kementerian Agama Pidie.

Amatan Serambi, ada beberapa meja yang disediakan di halaman pendopo untuk proses isbat nikah. Setelah di meja isbat, pasangan menuju ke meja lain untuk memproses akta kelahiran.

Mereka yang mengikuti sidang isbat nikah harus menghadirkan saksi masing-masing. Setelah selesai prosesi isbat, keduanya langsung mendapatkan buku nikah dan akta kelahiran.

Kepala Bidang Bina Hukum Dinas Syariat Islam Aceh, Dr H Syukri M Yusuf mengatakan, program isbat nikah sudah diawali sejak 2013 ketika NGO Logika 2 melakukan penelitian pendampingan. Hasil pendataan di satu wilayah saja yang terdiri atas empat kecamatan, ada ribuan pasangan yang tidak memiliki buku nikah.

“Dampak jika tidak memiliki buku nikah, tidak bisa mengurus akta kelahiran anak. Juga timbul persoalan lain terkait pembagian harta jika pasangan bercerai dan menggugat ke pengadilan,” katanya. Disebutkan, prosesi isbat nikah hanyalah untuk pasangan yang sudah menikah resmi, namun tidak memiliki buku nikah. “Bukan untuk pasangan poligami,” katanya.(aya)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved