Rumah Warga Deah RayaDigerus Abrasi

Ratusan rumah warga Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, sejak beberapa waktu

Rumah Warga Deah RayaDigerus Abrasi
Abrasi yang melanda pesisir pantai Gampong Deah Raya, Syiah Kuala, Banda Aceh menyebabkan pemukiman dan jalan digenangi air, Sabtu (20/8). 

BANDA ACEH - Ratusan rumah warga Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, sejak beberapa waktu terakhir sering terendam air karena digerus abrasi. Bahkan ketika terjadi pasang purnama, air laut menerjang hingga sebagian besar pemukiman warga di desa itu.

Amatan Serambi Sabtu (20/8), pasang air laut yang terjadi pada siang hari itu menyebabkan rumah penduduk dan jalan gampong tergenang. Hal itu karena keduanya hanya berjarak beberapa meter dari garis pantai. Bahkan, air laut yang menggenangi pemukiman warga ikut membawa sampah ke daratan.

Ulul Azmi, seorang warga Gampong Deah Raya kepada Serambi mengatakan, walaupun sudah memilik tanggul yang dibangun sejak tahun 2007 oleh BRR, namun hempasan gelombang ketika terjadi pasang mampu melewati tanggul dan memasuki rumah warga. Apalagi, ketinggian tanggul terus turun setiap tahunnya.

 “Tahun 2013 juga terjadi abrasi yang menyebabkan warga nyaris mengungsi. Namun saat itu Pemprov langsung membangun tanggul, sekarang musibah itu kembali terulang,” ujarnya.

Ia menambahkan, abrasi itu juga menyebabkan halaman Makam Syiah Kuala yang berada di desa setempat tergenang air. Padahal kompleks makam itu merupakan objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan.

Warga berharap pemerintah dapat membangun tanggul tambahan, agar mampu menahan hempasan gelombang saat air pasang, serta menghentikan abrasi. Saat ini, tanggul yang terdiri atas susunan batu gajah itu membentengi gampong tersebut sepanjang 1,5 Km.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Banda Aceh, Samsul Bahri yang juga telah meninjau ke lokasi abrasi mengatakan, air laut masuk ke pemukiman warga karena air menembus dari celah-celah tanggul tersebut, serta melewati bagian atas tanggul.

Menurutnya, pada tahun 2013 BPBD Banda Aceh juga sudah pernah mengusul penambahan tanggul itu ke Pemerintah Pusat, karena saat itu tingkat abrasi sangat parah. Namun anggarannya tidak disetujui oleh pusat.

Sehingga melihat kondisi saat ini, lanjut Samsul, Pemko Banda Aceh melalui dinas yang dipimpinanya itu akan mengusulkan kembali dana ke pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum untuk penambahan tanggul tersebut. “Kita perkirakan dana untuk membangun tanggul itu mencapai Rp 20 miliar, maka tidak mungkin kita harapkan dari dana APBK Banda Aceh,” ujar Samsul Bahri.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved