KUPI BEUNGOH

Hewan Politik

kebanyakan pelaku politik masakini lebih menunjukkan perilaku kehewanan, tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tidak beradab.

Hewan Politik
Irfan Siddiq, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Ar-Raniry 

Lalu, apa hubungannya atara pengalaman perbincangan isu politik yang saya ceritakan di atas dengan Hewan pada judul tulisan ini?

Di sini saya ingin menghubungkan momentum hari raya Idul Adha yang akan dirayakan oleh umat muslim di berbagai belahan bumi pada tanggal 10 Dzulhijjah nanti, dengan isu politik yang mana saat ini sedang naik daun.

Saya merasa tidak nyaman jika setiap hari harus mendengarkan dan melayani dialog politik dengan lawan bicara. Karena hemat saya, perbincangan politik hari ini semakin tidak bermanfaat, dan unsur ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) , namimah (adu domba), serta perkara tercela lainnya semakin tidak terpisahkan dari politik.

Antara pendukung sebuah partai saling jelek menjelakkan satu sama lain, saling menyebutkan kekurangan satu sama lain, belum lagi praktik korupsi yang sudah menjadi tontonan wajib dalam kehidupan kita saat ini. Diakui atau tidak, yang pasti anda mengalami hal yang sama dengan saya ketika politik menjadi isu pembahasannya.

Setiap datangnya hari raya idul adha, umat islam di syariatkan untuk untuk berkurban hingga berakhirnya hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), dan hukum berkurban itu sendiri adalah sunnat muakkad (sunat yang dikuatkan).
Dalil perintah berkurban antara lain termaktub dalam Al-qur’an surat Al-kautsar ayat 2 yang artinya : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” Lalu pada sebuah hadist Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi). Untuk berkuban sendiri, Allah Swt memerintahkan untuk menyembelih binatang ternak yang halal dan baik dagingnya, seperti kambing, kerbau, sapi dan unta.

Lalu, bagaimana cara saya mengaitkan antara hewan kurban dengan politik?
Pertama, akhir-akhir ini setiap aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam Pilkada 2017 adalah mendapat embel-embel politik pada ujungnya.

Jika seorang calon kepala daerah mengadakan diskusi, maka orang-orang menyebutnya diskusi politik, adapun kenduri yang diselenggarakan oleh calon kepala daerah pada saat-saat seperti ini disebut kenduri politik.

Maka hemat saya, jika nanti para calon kepala daerah tersebut menyumbang hewan kurban kepada masyarakat, tentu itu kurban politik atau hewan politik.

Kedua, kembali kepada isu politik yang tengah hangat di Aceh, hampir setiap hari media massa di Aceh diwarnai oleh berita tentang perkembangan pilkada Aceh 2017, tak terkecuali Harian Serambi Indonesia.

Baik berita tentang jumlah dukungan partai untuk beberapa calon gubernur Aceh, jumlah KTP bukti dukungan untuk calon independent, hingga rayuan gombal beberapa calon linto baro (sebutan lain untuk calon kepala daerah) kepada masyarakat jika mereka terpilih nanti.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved