KUPI BEUNGOH

Hewan Politik

kebanyakan pelaku politik masakini lebih menunjukkan perilaku kehewanan, tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tidak beradab.

Hewan Politik
Irfan Siddiq, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Ar-Raniry 

Semua pelaku politik pada Pilkada Aceh 2017 nanti tentu memiliki cara tersendiri untuk mengumpulkan suara terbanyaknya. Jika tim sukses gencar memasang baliho dan spanduk di persimpangan jalan, maka para linto baro disibukkan dengan mengisi berbagai acara kemasyarakatan seperti menghadiri kenduri blang, temu ramah dengan warga, bahkan bila perlu acara sunatan anak teungku imum pun dihadirinya.

Semakin mendekat dengan hari pemilihan kepala daerah serentak pada 17 Februari 2017 nanti, bertambah banyak aktifitas blusukan yang dilakukan oleh tim sukses dan calon kepala daerah tersebut.

Dipastikan juga, semua desa pendalaman menjadi tujuan favorit mereka dalam berkampanye, untuk apa?

Kegiatan yang satu ini dapat mengubah wajah calon pimpinan daerah dari penampilan sebelumnya bak mafia hongkong menjadi tokoh yang sangat sederhana, peduli rakyat dan humanis. Dan yang paling penting, mereka ingin menang, ingin berkuasa dan hidup sejahtera dengan jabatannya.

Begitu juga dengan berkurban, tujuan utama pada ibadah kurban adalah untuk menunjukkan wujud kecintaan dan kesetiaan seorang hamba kepada Allah. Sebagaimana wujud kepatuhan Nabiyullah Ibrahim A’alaihissalam dengan menyembelih anak kandungnya sendiri Ismail A’laihissalam atas perintah Allah Swt.

Antara Ibrahim yang rela mengorbankan anak tercinta karena perintah Allah, dan Ismail yang mau mengorbankan diri juga karena perintah Allah, inilah yang saat ini tergambar pada orang-orang yang terlibat dalam Pilkada Aceh 2017. Mereka mau merelakan uang dalam jumlah banyak, tenaga, fikiran, dan banyak waktu terkuras untuk meraih jabatan yang di inginkan.

Dalam Islam, menjadi tokoh politik atau pemimpin bukanlah hal yang terlarang jika dia seseorang yang memiliki kapasitas yang mumpuni, ilmu yang cukup, tidak fasiq, dan berjiwa amanah. Namun yang disayangkan pada kejadian di lapangan saat ini, orang-orang yang terlibat dalam politik semakin tidak beradab, tidak mencerminkan sifat terpuji, bahkan korban jiwa banyak berjatuhan ketika konflik antara pendukung salah satu calon kepala daerah dan calon lainnya terjadi.

Ini belum termasuk adanya perdebatan yang barujung kepada putusnya tali silaturrahmi. Saya menyimpulkan, kebanyakan pelaku politik masakini lebih menunjukkan perilaku kehewanan, tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tidak beradab.

Inilah yang penulis maksud dengan Hewan Politik, yaitu semakin banyak para pelaku politik yang tidak memberikan contoh yang baik dalam kesehariannya kepada masyarakat, mereka saling menindas satu sama lain demi mencapai pangkat tertinggi, tidak peduli dengan etika kemanusiaan, apalagi aturan keagamaan.

Ya, tidak bedanya dengan tingkah laku hewan buas yang memangsa hewan sejenis dengannya saat mereka berebut makanan.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved