Opini

‘Baitul Asyi’ dan Filantropi Para Haji

DANA kompensasi Baitul Asyi khusus untuk para jamaah haji Aceh telah dibayarkan sebesar 1.200 riyal

‘Baitul Asyi’ dan Filantropi Para Haji
BENDAHARA Baitul Asyi, Muhammad Sayid membagikan uang Baitul Asyi kepada JCH Kloter 1 Aceh di Mekkah, Minggu (21/ 8) pagi waktu setempat. 

Oleh Muhammad Yamin Abduh

DANA kompensasi Baitul Asyi khusus untuk para jamaah haji Aceh telah dibayarkan sebesar 1.200 riyal, setara dengan Rp 4,4 juta per orang (Serambi, 22/8/2016). Tahun ini masyarakat Aceh yang menunaikan ibadah haji mencapai 3.140 jamaah (menurut kuota). Dengan demikian, jumlah keseluruhan dana kompensasi yang dibayarkan mencapai Rp 13,8 miliar.

Jamaah haji Aceh tentu bergembira mendapatkan dana kompensasi tersebut, karena sangat membantu mengurangi beban biaya selama menjalankan proses dan rangkaian ibadah haji selama berada di Mekkah dan Madinah. Selain untuk kebutuhan-kebutuhan dasar, uang tersebut juga akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan para jamaah terhadap barang-barang sekunder dan oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman, sebagaimana telah menjadi kebiasaan para jamaah Indonesia pada umumnya.

Sebagaimana diketahui, dana kompensasi Baitul Asyi berasal dari wakaf berupa rumah pemondokan di Qasasiah, tempat antara Marwah dan Masjidil Haram, dekat pintu Bab Al-Fatah, oleh Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman Al-Habsyi) yang hidup pada masa kerajaan Islam Aceh Darussalam. Beliau telah menghadap hakim Mahkamah Syar’iyyah Mekkah pada 1224 H/1809 M untuk mendaftarkan harta wakafnya tersebut. Wakaf rumah pemondokan tersebut diperuntukkan bagi warga Aceh yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah atau bagi siswa-siswi Aceh yang belajar di Mekkah. Di samping itu, Habib Bugak Asyi meniatkan pemondokan ini untuk tempat tinggal bagi warga Aceh yang bermukim di Mekkah.

Berkaitan dengan rencana pemerintah Aceh mengundang nadhir Baitul Asyi ke Aceh untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan dan pemanfaatan dana kompensasi tersebut, serta kemungkinan memperluas ruang lingkup penyalurannya, maka diperlukan kajian yang konprehensif dan melibatkan pakar/ahli dalam bidang ini agar tujuan wakaf itu sendiri tidak melenceng. Sebagaimana wacana yang telah dilontarkan pemerintah Aceh, bahwa ruang lingkup penggunaan dana kompensasi Baitul Asyi akan diperluas, yakni: (1) penggunaannya tidak hanya untuk jamaah calon haji saja; (2) pembagian dana kompensasi dilakukan di Aceh setelah jamaah haji kembali; (3) digunakan untuk beasiswa warga Aceh yang studi di Timur Tengah.

Penting diapresiasi
Wacana tersebut sangat penting untuk diapresiasi karena nilai kemanfaatannya semakin tinggi dan penerima manfaatnya semakin menyebar luas, sehingga lebih banyak masyarakat Aceh yang akan merasakan dampak dari kebaikan aset wakaf ini. Bahkan, jika memungkinkan, calon jamaah haji yang masuk dalam kategori mampu (menunaikan haji secara mental dan material) untuk “menolak” menerima uang tunai wakaf tersebut, dan mengikrarkannya untuk disalurkan kepada masyarakat Aceh lainnya yang masuk dalam kategori fakir dan miskin. Ini bisa saja dalam bentuk beasiswa, pembangunan rumah dhuafa, modal dan pembinaan usaha kecil masyarakat pinggiran. Maka dana kompensasi Rp 14 miliar tersebut akan sangat membantu Aceh dalam membangun masyarakat.

Wacana tentang pembagian dana kompensasi dilakukan di Aceh setelah jamaah haji kembali dengan tujuan agar uang tersebut berputar di Aceh merupakan ide yang baik dari perspektif ekonomi. Namun demikian, jika dana tersebut tetap dibagikan kepada jamaah haji, tentu sejak awal para jamaah sudah memperkirakan bahwa uang tersebut mereka terima, dan sebelum berangkat haji, para jamaah juga meningkatkan jumlah rencana belanjanya selama musim haji di Mekkah dan Madinah, setidaknya setara dengan dana kompensasi Baitul Asyi. Artinya, tujuan dari wacana tersebut tidak dapat dicapai karena uang yang dibawa keluar dari Aceh oleh jamaah calon haji untuk dibelanjakan di Mekkah dan Madinah sudah setara dengan dana kompensasi yang akan mereka terima saat pulang.

Untuk wacana ketiga, digunakan untuk beasiswa warga Aceh yang studi di Timur Tengah. Kita semua belum mengetahui persis secara detil isi dari butir-butir lembaran wakaf yang dihadapkan pada Mahkamah Syar’iyyah Mekkah oleh Habib Bugak 207 tahun silam. Secara umum yang berkembang di masyarakat bahwa sang wakif meniatkannya untuk kompensasi bagi jamaah haji yang tidak menginap di Baitul Asyi, atau bagi masyarakat warga Aceh yang bermukim di Mekkah, atau bagi warga Aceh yang sedang menjalankan studi di Mekkah. Dengan menyebutkan nama tempat secara khusus berarti memiliki ikatan teritorial batas wilayah di mana dana kompensasi tersebut boleh disalurkan.

Jika wacana pemerintah menyebutkan Timur Tengah, berarti yang dimaksud adalah sebuah wilayah yang secara politis, dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Di mana pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Setidaknya kawasan Timur Tengah mencakup lebih kurang 27 negara. Perluasan ruang lingkup ini menjadi menarik dan jika terwujud tentu secara nilai, harta wakaf yang dikandung oleh aset baitul atsyi ini semakin meningkat dan kemanfaatannya dirasakan oleh lebih banyak masyarakat Aceh.

Kedermawanan sang wakif, Habib Bugak Al-Asyi ini tak mungkin lagi kita pungkiri. Dalam banyak catatan dan cuplikan cerita mengenai Baitul Asyi ini, hanya kebaikan-kebaikan beliau saja yang disebut. Sedangkan sosok pribadi beliau sulit ditelusuri, karena di dalam surat wakaf yang beliau tanda tangani hanya menyebutkan dirinya sebagai Habib Bugak Asyi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved