Illiza Paparkan Syariat Islam dan Smart City

Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal memaparkan Syriat Islam dan Smart City dalam forum Symposium Smart City

YOGYAKARTA - Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal memaparkan  Syriat Islam dan Smart City dalam forum Symposium Smart City yang berlangsung di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (7/9). Acara tersebut digelar oleh Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri dan Microsoft.

Symposium Smart City 2016 yang dibuka oleh Mendagri Tjahjo Kumolo itu berlangsung hingga Jumat (9/9) dengan dua rangkaian acara yaitu simposium dan diskusi panel di hari pertama dan Smart City Training di hari kedua dan ketiga. Diskusi panel dihadiri oleh 14 wali kota, sementara pelatihan kota pintar melibatkan delegasi dari 40 kota se-Indonesia.

Illiza sendiri tampil pada diskusi panel sesi ketiga bersama Wali Kota Depok, Idris Abdul Shomad dan perwakilan dari Gubernur Yogyakarta. Menurut Illiza, berbicara mengenai smart city tidak hanya soal ICT semata, akan tetapi juga menyangkut banyak aspek mulai dari lingkungan, infrastruktur, transportasi, hingga pariwisata. “Kota pintar menggambarkan suatu kota yang betul-betul smart, baik masyarakatnya, pemerintahnya, maupun lingkungan masyarakatnya,”papar Illiza.

Setelah memaparkan sekilas profil Kota Banda Aceh, Illiza kemudian menjelaskan konsep smart city di Banda Aceh tidak dapat dipisahkan dengan Syariat Islam yang berlaku di Aceh. “Sebagian pihak masih menganggap Syariat Islam menghambat suatu daerah untuk maju, salah satunya mengekang hak perempuan. Namun nyatanya saya jadi wali kota sekarang,” sebut Illiza disambut tepuk tangan hadirin.

Katanya, Rasulullah SAW berpesan agar kita mengajarkan anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Karena sekarang kita hidup di era digital, tentu kita tidak ingin tertinggal. “Walaupun kami menegakkan Syariat Islam, tapi kami ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kami bisa maju bersama dengan kota-kota lainnya di Indonesia,”kata Wali Kota Banda Aceh itu.

Illiza menegaskan, konsep smart city yang diterapkan di Banda Aceh harus tetap berada dalam bingkai Syariat Islam. “Indikatornya adalah bagaimana dan apa yang harus dicapai melalui Alquran dan Sunnah. Masih menurut Rasul, smart poeple itu adalah orang yang ingat mati dan mempersiapkan kematiannya. Jangan sampai ICT membuat kita sulit untuk menggapai khusnul khatimah,”katanya lagi.

Ia juga mengharapkan, stigma yang masih melekat yakni Syariat Islam hanya akan menghambat kemajuan dan tidak matching dengan teknologi bisa segera dihilangkan. “Karena kami sangat bangga menunjukkan Banda Aceh Islamic Smart City kepada dunia,” sebut Illiza.

Selanjutnya, Illiza mepaparkan langkah-langkah yang telah ditempuh pihaknya guna mewujudkan Banda Aceh Islamic Smart City, baik berupa kebijakan, program, inovasi maupun aplikasi-aplikasi berbasis ICT yang dilahirkan oleh para staf Pemko Banda Aceh.

Sejumlah aplikasi yang dipaparkan Illiza antara lain E-Kinerja, E-Disiplin, dan penetapan Banda Aceh sebagai salah satu pilot project open data di Indonesia. Selain itu, di Banda Aceh juga telah membuka perizinan online yang terintegrasi dengan BPJS Ketenagakerjaan, dan ini merupakan yang pertama yang diterapkan di Indonesia.(rel/mis)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved