Sepenggal Kisah dari Balik Jeruji Dunia Lain
Untaian kalimat tanpa beban itu meluncur dari mulut seorang perempuan muda, sebut saja namanya Melati
“I love you Bang Sogan...! Aku cinta Bang Sogan... muaaach...”
Untaian kalimat tanpa beban itu meluncur dari mulut seorang perempuan muda, sebut saja namanya Melati (14) yang sedang melalui hari-harinya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh.
Meski di hadapan banyak orang, Melati tak henti berkicau seperti mengungkap rahasia hatinya. Satu rahasia yang kini dibawanya hingga ke balik jeruji dunia lain, rumah sakit jiwa. Mungkinkah itu kisah cinta sungguhan? Ataukah petikan bayang-bayang imajiner yang menghiasi hari-hari yang kini dilaluinya. Entahlah.
Tak usah mengaduk-aduk kebenaran hanya dengan suara-suara itu. Sangat sulit menemukan kebenaran. Bahkan Melati, dalam posisi itu adalah sosok yang sedang merintih. Ia memang sedang berjuntai di balik jeruji besi. Agaknya dia sedang berada di batas awang-awang, antara dunia nyata dengan dunia lain yang wujudnya entah di mana.
Begitulah, Melati dengan persoalannya, yang telah membawa dia ke ruang perawatan RSJ Banda Aceh.
Ia tentu tak sendiri. Kawan satu selnya dan seluruh penghuni RSJ yang tinggal seatap dengannya mengalami nasib yang sama. Tentu dengan berbagai alasan di baliknya serta dengan berbagai tingkat gangguan kejiwaan. Romansa agaknya tak mau jauh-jauh dari persoalan hidup anak manusia.
Hari itu, Rabu (14/9) suasana Lebaran masih terasa kental. Kumandang takbir menggema, pun di lingkungan masjid RSJ. Para pasien yang jumlahnya mencapai ratusan jiwa itu turut merasakan berkah Idul Adha. Satu ekor sapi sumbangan Yayasan SM Amin Indonesia menjadi menu santap siang penghuni dan keluarga besar rumah sakit tersebut.
Sedari pagi aroma kuah beulangong menguar menggoda selera. Sementara para koki sibuk memasak 5 kuali menu khas Aceh Besar itu, dua tiga pasien dalam balutan seragam RSJ wara-wiri di sekelilingnya. Mengobrol sesamanya dan sesekali nimbrung dengan yang lain.
“Sapinya sudah dipotong sejak kemarin, hari ini tinggal masak saja. Pasien sebagian makan di luar bersama kita, sebagiannya lagi karena kondisinya tidak memungkinkan makanannya dibawa ke ruangan,” terang Ketua Yayasan SM Amin Aceh, Kadri didampingi Humas RSJ Banda Aceh, Azizurrahman.
Nelly Wani, ketua panitia kenduri kurban dari RSJ menyulap pekarangan samping menjadi dapur sekaligus prasmanan. Dua jam kemudian atau sekira pukul 11.30 WIB, lewat pengeras suara petugas mengumumkan agar para pasien keluar untuk santap siang.
Antrean yang terdiri pasien laki-laki dan perempuan pun mengular. Tampak tertib dan tentu saja diselingi celotehan khas penghuni jeruji dunia lain.
Sejatinya kurban mengajarkan kita arti keikhlasan. Memberikan sesuatu yang dipunya sekaligus paling berharga. Ketika umat muslim lainnya mengurbankan sapi atau kambing, Melati justru mengorbankan perasaan. Seperti nukilan sajak sang penyair yang juga sufi, Jalaluddin Rumi: Pada hari cintamu menyentuhku/ Aku menjadi gila/ Hingga kawanan orang gila menjauhiku dan lari dariku// (nurul hayati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penghuni-rsj-aceh-menikmati-hidangan_20160915_092337.jpg)