Minggu, 12 April 2026

PON XIX 2016

Pemanah Aceh Antiklimaks

Penampilan Pemanah Aceh, Dhia Rahmat antiklimaks ketika babak final cabang panahan Pekan

Editor: bakri
ATLET Aceh, Dhia Rahmat melepaskan anak panah dalam final nomor aduan perorangan FITA recurve pada PON XIX 2016 di lapangan panahan Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/9). 

BANDUNG - Penampilan Pemanah Aceh, Dhia Rahmat antiklimaks ketika babak final cabang panahan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016,

setelah menyerah di tangan pemanah Olimpiade Rio de Janeiro Brasil dari Jawa Timur, Riau Ega Agatha Salsabila di Lapangan panahan Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat, kemarin. Dhia Rahmat kalah 0-6 (21-27), 26-7, dan 23/26).

Wartawan Serambi, Muhammad Hadi kemarin melaporkan, penampilannya di babak 16 besar, perempatfinal, dan semifinal mengesankan. Betapa tidak, Dhia sukses menyikat habis tiga jagoan Pelatnas yang berasal dari Jawa Barat, dan juga Kalimantan Timur. Namun, pagi kemarin, dia harus menyerah karena kalah kelas.

Perunggu diraih atlet Yogyakarta, Rahmat Sulistyawan yang mengalahkan Alek Edwar dari Kalimantan Timur, 6-2 (24-25, 27-25, 30-23). Dalam pertandingan panahan, pemenang setiap seri akan mendapatkan skor 2, jika imbang 1, dan kalah 0.

Tekanan secara mental terhadap Dhia sudah terlihat jelang final nomor aduan perorangan FITA recurve. Ratusan suporter asal Jawa Timur sudah memukul drum band untuk memberi dukungan kepada Ega. Dominasi pendukung Ega cukup mempengaruhi situasi paling menentukan dalam perebutan medali emas. Tapi anak-asuh Pelatih Serka Nur Beni dan Asisten Pelatih Gagarudi berusaha untuk enjoy.

Dhia yang pertama mendapat kesempatan melepaskan anak panah tak tepat sasaran di seri satu. Ia hanya mengantongi enam poin, berbeda dengan meraih 7. Kali kedua Dhia meningkat menjadi 8, Ega sempurna 10 poin. Anak panah ketiga, Dhia hanya 7 poin hingga jumlahnya 21 poin. Ega kembali perkasa saat melepaskan anak panah ketiga dengan poin 10 hingga total 27 poin atau menang 2-0.

Tampil di seri kedua, Dhia makin percaya diri dengan melepaskan anak panah pertama meraih 10 poin. Aksi dia ini sempat membuat penonton memuji penampilannya. Sebaliknya Ega juga mencatat poin 10 pada anak panah pertama. Kemudian anak panah kedua Dhia menghasilkan 7 poin dan ketiga meraih 9 poin atau total 26 poin.

Tapi Ega dalam tembakan kedua menghasilkan 8 poin, ketiga memperoleh 9 poin dan nilai total 27 poin. Ini berarti Ega tak terkejar lagi dengan keunggulan 4-0. Bermain di seri ketiga, sasaran anak panahnya masih stambil yang mengumpulkan poin (8,7,8) atau 24 poin. Sebalik tembakan tiga anak panah Ega stambil dengan meraih poin (8,9,9). Akhirnya emas menjadi milik Ega dengan kemenangan 6-0.

Pelatih Panahan Aceh, Serka Nur Beni bersyukur meraih perak dan ini jerih payah selama latihan hingga bisa menuai hasil maksimal. Dibanding atlet lain, di PON juga berkiprah pemanah berkualitas di dunia khususnya atlet Olimpiade, dan Pelatnas. Namun atlet sudah berjuang, berusaha maksimal untuk memberikan kebanggaan untuk Aceh sendiri. Performa atlet Aceh selama dua bulan TC (training centre) memang sudah siap untuk bertanding di PON. “Kita masih tersisa tiga atlet lagi di ronde nasional, mudah-mudah bisa bersaing dengan atlet daerah lain,” ujarnya.

Penampilan Dhia juga disaksikan Kadispora Aceh, Asnawi, Ketua Umum Perpani Aceh Dr Nyak Amir MPd, Sekretaris Umum KONI Aceh, M Nasir, dan anggota Kontingen Aceh lainnya. Sedangkan pemanah Aceh lainnya yang akan turun di ronde nasional, yaitu Hendra Muchrizal, Nuzul Puji Rama dan Muhammad Heriansyah pada Jumat (23/9).

Setelah meraih medali perak, Dhia Rahmat kepada Serambi membuka rahasia yang membuat dirinya tenang dan masuk final. Ternyata orang tuanya berpesan agar ia jangan lupa membaca Bismillah dan Allahu Akbar saat mengawali latihan, dan pertandingan. Pesan orang tua dituruti hingga bisa tampil di final. “Makanya, dalam berbagai kejuaraan hingga PON selalu membaca Bismillah dan Allahu Akbar sebelum melepas anak panah,” ujar guru SMP Sukma Bangsa, Bireuen.

Menurut Dhia, dirinya tak takut melawan atlet Olimpiade. Meski ini pengalaman pertama di PON bisa masuk final. Makanya agak tertekan, dan bukan tertekan dengan lawannya.

Sebelumnya di PON XVIII 2012 Riau hanya masuk peringkat 14. Tapi ia bersyukur dan puas walaupun dapat perak. Kalau kali ini berhasil walaupun emas belum didapatkan, maka harus berusaha lagi. Hasil hari ini akan menambah motivasi untuk ke depannya. “Mungkin kita juga kurang jam terbang bila dibandingkan dengan pengalaman lawan,” ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved