Salam

Rakyat Mandi Debu, Wakil Rakyat Mana?

Masyarakat yang berdomisili dan punya lapak usaha di sekitar Jalan Blang Bintang Lama kawasan

Rakyat Mandi Debu, Wakil Rakyat Mana?
Pohon pisang ditanam di tengah jalan Blangbintang Lama, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar yang kondisinya berdebu, Senin (26/9/2016). Warga setempat mengeluhkan banyaknya debu di jalan yang tengah diaspal ulang tersebut. SERAMBI/M ANSHAR 

Masyarakat yang berdomisili dan punya lapak usaha di sekitar Jalan Blang Bintang Lama kawasan Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar, sejak dua bulan terakhir sangat menderita. Mereka harus mandi debu pada musim kering dan berkubangan lumpur kala musim hujan. Pejabat pemerintah tak ada yang menjelaskan kepada masyarakat mengapa proses pengerasan jalan dibiarkan hingga dua bulan.

Padahal, kita tahu itu jalan lama yang sudah berumur mungkin lebih 100 tahun. Dan, konstruksinyapun sudah berstandar nasional sejak 30 tahun lalu. Jadi, yang dilakukan sekarang adalah peningkatan. Artinya, secara teknis, pilihan atau teori manapun yang dipakai, tidaklah sampai harus menunggu berbulan-bulan.

Belakangan ini, anak-anak yang tinggal di sepanjang jalan itu mulai terjangkit ispa dan batuk-batuk. Ekses lain, warung-warung makan dan minuman, toko kelontong, serta doorsmeer di kawasan tersebut terpaksa tutup karena pemiliknya tak tahan menghirup debu dan pembeli atau pelanggan pun tak ada yang mau masuk.

Untuk diketahui, jalan itu melintasi tujuh gampong yang tergolong padat penduduk di Kecamatan Kutabaro. Dan, lintasan itu juga termasuk jalur padat lalu-lintas, termasuk untuk lintasan ke bandara Sultan Iskandar Muda serta lintasan bagi mahasiswa menuju sebuah kampus universitas yang ada di Kuta Baro.

Menjadi masuk akal ketika masyarakat dan pedagang di lintasan itu marah. Mereka sampai melempar drum-drum, batu-batu, kayu, dan benda-benda lainnya ke tengah jalan. Sejumlah tulisan bernada hujatan yang ditujukan kepada pemerintah dan kontraktor proyek juga ditempel di lintasan jalan tersebut. “Semoga kontraktor mati,” begitu salah satu tulisan pada karton.

Itu merupakan ekspresi kemarahan masyarakat kepada pemerintah khususnya Dinas PU Bina Marga yang dinilai kurang bertanggung jawab.

Kasus seperti ini, di sekitar Kota Banda Aceh saja sudah terjadi berulang-ulang. Beberapa waktu lalu masyarakat juga marah gara-gara proyek perbaikan drainase yang sangat mengganggu arus lalu lintas, terutama di jalan-jalan sempit dalam lingkungan kelurahan. Material diserak sembarangan, lalu proses pengerjaan juga tidak mempertimbangkan terganggunya aktivitas masyarakat.

Di luar ibu kota provinsi ini juga hampir setiap hari kita membaca berita tentang banyaknya jalan yang dibiarkan berdebu. Bukan hanya pengerjaan yang terlambat, sebagian di antaranya sempat terdengar kabar malah sudah ditelantarkan kontraktornya.

Yang juga menjadi pertanyaan kita, jika memang masyarakat sudah berbulan-bulan menderita serta instansi terkait bersama kontraktornya tak menggubris, lalu kenapa pula para wakil rakyat di sana tak tak ada pula “upaya paksa?” Mereka lembaga wakil rakyat juga “pura-pura” tidak tahu?

Padahal, sesungguhnya itulah tugas wakil rakyat. Kontrak sudah ada, duit sudah ada, kenapa pengerjaannya macet? Sebab, proyek seperti itu tak bisa dibuat multiyears. Ini bukan pembukaan jalan baru. Ini peningkatan, jadi tak boleh tahun ini pengerasan lalu pengaspalannya tahun depan. Begitu!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved