KUPI BEUNGOH

Mengapa Merantau itu Perlu?

Hanya orang cengeng yang tidak berani rihlah atau merantau, karena dihantui perasaan takut hidup susah di rantau orang.

Mengapa Merantau itu Perlu?
Safwannur 

RIHLAH merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang memiliki arti perlawatan, perjalanan, pelancongan dan darmawisata. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata safar.

Dalam bahasa Aceh kata rihlah lebih cocok diartikan dengan jak meuranto atau lebih spesifiknya jak meudagang dalam upaya menuntut ilmu agama.

Rihlah merupakan bagian dari ajaran Islam, hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah surat al-Muluk ayat 15:

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Dalam tradisi keilmuan Islam, rihlah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam upaya mengasah intelektual.

Praktik rihlah sudah biasa diaplikasikan oleh para ulama terdahulu. Mereka kerap melakukan rihlah ilmiah dari satu negara ke negara yang lain dalam jangka waktu yang lama demi mendapatkan ilmu dari para ahlinya.

Mereka rela menempuh perjalanan berbulan-bulan, melewati medan yang sulit dengan bekal seadanya dan kendaraan yang sederhana, jauh dari kesan mewah.

Tak peduli apapun rintangan yang mungkin saja mereka hadapi dalam perjalanan. Semangat yang tinggi didukung oleh rasa cinta yang mendalam terhadap ilmu menjadi motivasi utama mereka untuk melakukan rihlah.

Kita ambil contoh Imam Syafi’i, seorang imam mazhab terkemuka yang banyak pengikutnya di Indonesia. Beliau dilahirkan di Gaza, Palestina, namun pengembaraan beliau dalam menuntut ilmu sampai ke Mesir, Yaman, Irak dan tanah suci Makkah dan Madinah.

Imam Syafi’i sangat menganjurkan untuk para penuntut ilmu agar banyak melakukan rihlah demi mencari ilmu. Beliau berkata: Merantaulah engkau, niscaya akan engkau dapatkan apa yang engkau tinggalkannya. Bekerjalah engkau karena kenikmatan hidup ada dalam kerja itu. Sungguh aku melihat air yang tidak mengalir menimbulkan mafsadah (bahaya), tetapi bila air itu mengalir maka menjadi baik, dan jika tidak mengalir maka menjadi tidak baik. Singa-singa itu kalau tidak meninggalkan sarangnya tidak bisa menerkam mangsa sebagai makannya, dan anak busur kalau tidak dilepas dari busurnya, tentu tidak mengenai sasarannya.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved