Ada “Cut Nyak Dhien” di HUT TNI
Manakala suara “Cut Nyak” sampai pada batas sakratal maut, hujan bertambah deras, seperti mengantar perasaan pada kisah silam.
Penulis: Nani HS | Editor: Amirullah
SEJAK pukul 07.30 Wib, gerimis tak henti, membasahi hamparan rumput Blang Padang Banda Aceh, saat keluarga besar TNI sedang melaksanakan Upacara Parade dan Syukuran Peringatan Hari TNI ke 71, (5/10). Sebuah perayaan yang hikmat, murah, dan meriah.
Tahukah Anda? Rupanya hujan bukan kendala bagi upacara itu. Di antara atraksi yang diunjuk, tarian massal bertajuk Morere oleh para perempuan dari berbagai unsur di lingkungan TNI antara lain Persit KCK, atraksi gajah mengalungkan bunga ke leher pembesar TNI di Aceh, parade motor besar dan mobil VW, olahraga bela diri dan ketangkasan, dan lain-lain, ternyata ada aroma lain, di lokasi yang pernah disebut Desah Arafah itu. Ada “Cut Nyak Dhein” .
“Aku tidak mau kejadian seperti Pang Laot kembali terjadi. Pang Laot musuh kita paling besar! Kalau ada di antara kalian yang imannya goyah seperti Pang Laot, aku ikhlaskan kalian untuk pergi!Yang mau tinggal denganku di sini, hanya ada satu pilihan, perang fisabilillah!” suara “Cut Nyak Dhien” besar, tegas, menggelegar membelah hujan yang mulai deras.
Apalagi ada penyertaan intro heroik dan religi, bagai menebar api semangat dan kegetiran. Sah-sah saja banyak orang terpana karenanya.
Tidak ada yang berkutik dari tempatnya, bahkan penonton yang tak tertampung dalam tenda-tenda undangan tetap tegak dalam hujan. Seorang prajurit yang sedang berdiri terlihat, sempat menyapu lengannya. Tak tahulah, apakah dia menyapu bulu tangannya yang merinding atau bergidik mendengar semangat yang dilontarkan “Cut Nyak Dhien ”, atau menyeka air hujan?
Manakala suara “Cut Nyak” sampai pada batas sakratal maut, hujan bertambah deras, seperti mengantar perasaan pada kisah silam. Moment “napak tilas” yang mampu mengingatkan, bahwa Cut Nyak Dhien, memang digjaya berperang, wanita petarung sejati.
Pantang menyerah sampai nyawa terpisah dari raga. Perempuan Lampadang Aceh nan perkasa, yang akhirnya pada 6 November 1908 dipusarakan di Gunung Puyuh Sumedang, Jawa Barat. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Anda percaya? Aksi dalam bentuk teaterikal dengan narator dan dubber Nurmaida Atmaja (Cut Nyak Dhien) ini, sempat membuat seorang ibu separoh baya yang tadinya duduk di tenda kanan panggung utama, sampai bangun menembus hujan mendehati arena pertunjukan.
Mungkin ia makin “terhipnotis” dengan ungkapan terakhir “Cut Nyak Dhien” yang melafalkan kalimat tauhid la ilaha illallah, dan ungkapan, “ aku tak pernah berhenti , aku tak pernah berhenti,” dengan lirih dan parau, diperkuat musik latar terpilih. Sosok Cut Nyak Dhien terasa “hadir” di Blang Padang. Ya, orang-orang yang pandangannya terhalang kerumunan penonton, tergerak mendekati suara. Karena suara-suara itu tidak pura-pura. Disuarakan dengan profesional teaterikal, seperti benar adanya.
Penonton awam barangkali tak semua tahu, bila pertunjukan sepenggal kisah perjuangan Cut Nyak Dhien, pada HUT 71 TNI “ala” Kodam Iskandar Muda itu, adalah sebuah olah gerak yang dilatarbelakangi dubbing kelompok asli orang teater. Jujur saja dubbing tersebut mencuat kualitasnya. Baik suara maupun olah vokalnya, pun sound effect-nya.
Selain Nurmaida, tokoh utama lainnya, Ampon Yan (Teuku Umar), Sarbunis (Pang Laot), dan Arifin sebagai kompeni Belanda. Dikomandoi Khairil Anwar dan Zul Kande (Sanggar Buana) siswa siswi Modal Bangsa adalah pelakon geraknya. Tentu saja kesemua personel yang terlibat dalam teaterikal Cut Nyak Dhien, dibawah manajemen Resimen Induk Daerah Militer Kodam Iskandar Muda.
Nah, aspal (asli tapi palsu)-nya pementasan ini tidak menjadi masalah. Biar tampil secara lipsing, yang penting pemilihan tema perjuangan Cut Nyak Dhien nyambung dengan peringatan HUT TNI kali ini.
Yang penting lagi, kalangan TNI telah merangkul pekerja seni dalam ceremonialnya. Ada sinergitaslah. Sebuah pekerjaan yang dikerjakan oleh ahlinya, begitu kira-kira yang tersirat.
Namun, apa yang dirasakan oleh dubber suara utama lakonan tersebut? “Memang usaha para pemain untuk melakoni teaterikal Cut Nyak Dhein ini belum maksimal ya.
Tapi bukan itu. Saya sangat mengapresiasi bahwa kalangan TNI telah membuat teaterikal ini. Bahwa sebuah pementasan adalah media yang paling efektif untuk menyampaikan sesuatu. Kalau bisa seniman dilibatkan secara penuh,” harap Nurmaida, usai upacara peringtan HUT 71 TNI. Digahayu.(nani hs)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/cut-nyak-dhien_20161005_182735.jpg)