Citizen Reporter
Mengunjungi Rumah Maher Zain di Stockholm
ALHAMDULILLAH, untuk suatu lawatan silaturahmi dan pengembangan bisnis Elhanief Group
OLEH AKMAL HANIF Lc, Ketua Umum Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh (KSDA) dan Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Korwil Aceh, melaporkan dari Stockholm, Swedia
ALHAMDULILLAH, untuk suatu lawatan silaturahmi dan pengembangan bisnis Elhanief Group, saya tiba di Swedia, Jumat lalu, setelah terbang 18 jam. Saya mendarat di Arlanda Airport Stockholm.
Saya dijemput di Bandara oleh Cek Murtala Ismail dan Cek Rosmala Dewi Abdul Gani, warga Aceh yang sudah menetap di Swedia. Saya akan berada di Eropa 18 hari. Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk mengunjungi delapan negara.
Hari pertama di Stockholm, saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Melihat pasar, sejumlah gedung perkantoran, dan museum. Ditemani Sayuti Nor, warga Aceh di Stockholm, saya berkeliling mencari pasar-pasar yang bisa dijajaki peluang kerja sama dalam urusan bisnis. Di kota ini, saya juga meluncurkan buku “Jatuh Itu Nikmat”, buku yang saya tulis berisi tip bisnis dan pengalaman jatuh bangun membina usaha.
Banyak cerita yang saya peroleh selama di Stockholm. Islam di Eropa sedang berkembang, bahkan tiap hari Jumat di masjid besar Stockholm selalu ada warga Swedia yang mendapat hidayah, memeluk Islam.
Setiap tahun pengungsi dari sejumlah negara Timur Tengah yang dilanda konflik masuk ke Eropa, terutama Swedia. Di Swedia sendiri, dalam dua tahun ini, menurut informasi dari muslim di sini, banyak dibangun masjid kecil di sejumlah perkampungannya.
Perbedaan mazhab antara Sunni dan Syiah di negeri ini tidak menjadi persoalan serius. Mereka hidup berdampingan, bersatu, dan saling menjaga eksistensi agama Islam. Muslim di Swedia juga memiliki tanah kuburan khusus bagi warga muslim yang dibeli oleh pengurus masjid.
Pemandangan Islam di Swedia tidak asing lagi, di sejumlah kedai kopi yang kita jumpai kerap terlihat wanita berhijab duduk menikmati kopi.
Warganya yang sangat menghormati perbedaan menjadikan negeri ini sebagai tujuan wisata dan tempat paling didambakan setiap orang. Makanan halal banyak kita temukan di Stockholm, tempat Dr Hasan Tiro, deklarator GAM, lama bermukim. Banyaknya halal food memudahkan warga muslimin, termasuk saya, untuk memanjakan perut di negeri Semenanjung Skandinavia ini.
Lima tahun lalu, warga Orebro, 200 km dari Stockholm, membeli sebuah gereja yang kemudian dijadikan masjid. Hal yang cukup menarik bagi saya, setiap Jumat digelar pengajian ibu-ibu di Masjid Alby yang dipimpin Ummi Hanafi, orang Aceh yang telah menetap di kota ini selama 25 tahun.
Masjid Alby tak jauh dari rumah Maher Zain, penyayi religi terkenal asal Swedia yang pernah saya undang bernyanyi di Aceh, Oktober 2012.
Sayang, rencana saya bertemu Maher Zain tidak kesampaian. Meski saya sudah berada di depan rumahnya. Penyanyi tersohor ini sedang berada di Turki untuk satu lawatan konser.
Anak-anak muslim Swedia, termasuk anak-anak Aceh yang besar di negara ini, setiap Sabtu belajar tahfiz Alquran yang diajarkan oleh para syeikh dari Mesir. Anak-anak Aceh juga memiliki kelas khusus tahfiz Alquran di Meunasah Aceh di Alby. Pengajian anak-anak Aceh diasuh oleh Tgk Ramly yang telah menetap di sini sejak 27 tahun lalu.
Di Masjid Besar Stockholm setiap hari digelar pengajian yang dipimpin para ulama dari Arab. Swedia sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Meski mayoritas penduduknya beragama Kristen, tetapi komunitas muslim di Swedia tetap mendapat perlindungan dan kebebasan dalam menjalankan syariat agamanya.
Setiap tahun, Swedia membuka diri menerima pengungsi dari negara-negara Timur Tengah yang sedang diamuk konflik.
Pengalaman lain yang saya pelajari di Swedia adalah pendidikan kemandirian yang ditanamkan di dalam keluarga di negara ini. Jika di Indonesia, termasuk di Aceh, orang tua kerap memanjakan anak-anaknya dalam hal biaya hidup dan pendidikan hingga ke bangku kuliah, maka sangat berbeda dengan Swedia. Saat seorang anak sudah memasuki usia 16 tahun, mereka mulai diajarkan ilmu kemandirian dan dibekali keterampilan untuk terjun ke dunia kerja. Selanjutnya, menginjak usia 18 tahun keluarga di Swedia sudah mulai melepaskan tanggung jawab kepada anak tersebut untuk mandiri dalam hal keuangan.
Pemuda Swedia akan diarahkan untuk mencari pekerjaan, guna memenuhi kebutuhan hidup sendiri, baik kebutuhan uang jajan dan biaya pendidikan. Tidak mengherankan jika angka pengangguran di Swedia sangatlah kecil.
Jika pemuda Swedia akan menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan memerlukan biaya, mereka dapat meminjam dari pemerintah. Pembayarannya bisa dilakukan secara cicilan, dipotong dari gaji atau upah hasil dari kerja pemuda tersebut.
Jika hal ini dapat diterapkan oleh keluarga di Indonesia, khususnya di Aceh, insya Allah akan menjadikan masyarakat kita lebih mandiri, mengurangi beban keluarga, dan membantu pemerintah dalam menekan angka pengangguran. Semoga.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akmal-hanif-lc_20161005_092408.jpg)