Pulo Aceh Sentra Agribisnis Sapi

Pemerintah Pusat menetapkan Pulo Aceh, Aceh Besar, sebagai Sentra Agribisnis Peternakan Sapi

Pulo Aceh Sentra Agribisnis Sapi

BANDA ACEH - Pemerintah Pusat menetapkan Pulo Aceh, Aceh Besar, sebagai Sentra Agribisnis Peternakan Sapi, sehingga 1.500 bibit sapi unggul akan dikembangkan di lokasi itu. Pemerintah Aceh berharap program pusat itu bisa direalisasikan pada awal 2017.

Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Kadiskeswannak) Aceh, Dr Ir Raihanan MSi, mengatakan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Ir Muladno MSA, memilih Pulo Aceh sebagai salah satu lokasi kawasan pengembangan agribisnis peternakan di daerah kepulauan dan perbatasan sesuai hasil survei tim mereka belum lama ini.

“Dipilihnya Pulo Aceh karena kawasan padang pengembalaannya cukup luas, mencapai ratusan hektare. Lokasinya juga aman dari hama binatang buas, seteril dari berbagai jenis penyakit ternak mematikan,” kata Raihanah kepada Serambi, Minggu (9/10).

Didampingi Kadiskeswannak Aceh Besar, drh Ahmad Tarmizi dan tenaga ahli kesehatan hewan, drh Muslim, Raihanah, menyebutkan di lokasi itu juga banyak penduduk peternak sapi, sehingga tak perlu lagi mendatangkan peternak dari luar Pulo Aceh.

“Kami sangat berharap janji Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan memberi bantuan 1.500 bibit sapi unggul bisa direalisasikan awal tahun depan. Tugas dinas teknis nanti akan menyiapkan tenaga penyuluh kesehatan hewan bersama dan dokter hewan,” timpal Ahmad Tarmizi.

Ia menambahkan Aceh Besar salah satu daerah produsen sapi di Aceh. Setiap expo peternakan diadakan Dinkeswannak Aceh, sapi-sapi dari Aceh Besar kerap menjadi juara I dan juara favorit karena tubuhnya besar mencapai 1.000-1.200 kg.

Menurutnya, tiga tahun berturut-turut, Aceh Besar meraih juara I dan juara umum lomba sapi. “Ini menunjukkan bahwa peternak sapi di Aceh Besar, sudah mampu memelihara sapi untuk menghasilkan sapi-sapi berkualitas tinggi,” ujarnya.

Kadiskeswannak Aceh Besar, drh Ahmad Tarmizi, menambahkan untuk meningkatkan pengetahuan mereka memelihara sapi di kawasan padang pengembalaan yang luas, dirinya bersama tiga staf, sudah melakukan kunjungan kerja untuk belajar ke Kawasan Peternakan sapi unggul di Padang Mengatas, Sumatera Barat, pekan kemarin.

Menurut Ahmad, lokasi itu dikenal sebagai penghasil bibit sapi simentel, limosin (impor) dan sapi pesisir (lokal) unggul. Di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak, Padang Mengatas, Sumatera Barat ini, kata Tarmizi, untuk memelihara 500-1.000 sapi lokal dan impor, hanya dibutuhkan 3-5 pekerja.

“Sedangkan tingkat produktivitas sapi untuk bisa melahirkan hasil kawin suntik atau inseminasi buatan/IB) yang unggul mencapai 90-100 persen. Menurut pihak penyuluh di sana, ini bisa terjadi karena sistem kerja penyuluh berjalan sesuai tupoksinya,” kata Ahmad.

Sebaliknya, di Aceh, kata Ahmad, tingkat keberhasilan kawin suntik atau IB masih 60-80 persen. Pasalnya, masih kurang kurang serius, misalnya jika dipanggil peternak untuk melaksanakan kawin suntik sapi mereka, kedatangan petugas masih tak tepat waktu. Akibatnya, sapi yang sudah birahi, namun karena petugas kawin suntik datang terlambat, bibit sapi jantan unggul yang disemprotkan ke rahim sapi betina, tidak jadi. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved