Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Politik Ma’op

Budaya lisan Aceh dideskripsikan sebagai hantu atau makluk halus yang cukup ditakuti

Tayang:
Editor: bakri
Google/net

Oleh Lukman Hakim

ISTILAH ma‘op dalam tatanan budaya lisan Aceh dideskripsikan sebagai hantu atau makluk halus yang cukup ditakuti oleh anak-anak. Hakikat ma‘op itu sendiri sebenarnya hanya tokoh fiktif, rekayasa budaya untuk menakut-nakuti anak-anak supaya tidak berkeluyuran di malam hari atau pergi ke tempat tertentu yang tidak bermanfaat. Orang tua biasanya menggunakan istilah ma‘op ini untuk menciptakan rasa takut kepada anak. Umpamanya orang tua mengatakan, “Bek ka jak bak teumpat nyan, seubab di sinan na ma‘op.” (jangan pergi ke situ, sebab di sana ada ma‘op).

Ada beberapa figur fiktif lain selain ma‘op yang sering digunakan dalam budaya lisan Aceh terkait makhluk halus atau dedemit, sebagai sosok mengerikan dan mengancam kenyamanan seperti, geunteut, balum beude, tuleung dong dan lain-lain. Istilah-istilah ini cukup populer dalam masyarakat Aceh tempo doeloe, meskipun kini seiring dengan perkembangan zaman muncul tokoh dunia halus modern seperti mak lampir, tuyul, gasper dan lain lain.

Setidaknya ada beberapa kesan dalam penggambaran tentang sosok ma‘op ini dalam tradisi lisan masyarakat Aceh. Pertama, mengancam dan mengintimidasi, di mana ma‘op ini selalu mengancam dan mengitimidasi anak-anak sehingg anak akan merasa ketakutan dan mengalami trauma psikologis. Rekayasa ini sengaja dimunculkan dalam tatanan budaya lisan masyarakat Aceh supaya anak-anak terkontrol, sehingga tidak berkeluyuran ke tempat yang tidak bermanfaat terutama di malam hari. Motifnya supaya anak-anak sehabis pulang mengaji langsung kembali ke rumah, tidak pergi ke tempat-tempat yang tidak perlu.

Kedua, kesan tidak ramah dan menakutkan. Ma‘op ini selalu digambarkan sebagai sosok yang paling menakutkan, perawakannya mengerikan, perilakunya jauh dari kesan santun dan ramah. Bahkan penggambaran ma‘op ini menjadi sebutan bagi anak-anak yang wajahnya kotor dengan lumpur atau pakaiannya lusuh. Kajeut jak manoe aju keudeh, nyan muka ka lagee ma‘op (Pergi mandi sana, itu wajahmu sudah macam ma‘op).

Dan, ketiga, kesan membatasi gerak, karena begitu tidak bersahabatnya ma‘op, maka muncul kesan bahwa figur fiktif ini adalah sosok yang membatasi gerak, merampas kebebasan anak-anak untuk merdeka dalam riangnya dunia mereka.

Sosok fiktif
Kesan-kesan yang ada dalam sosok fiktif ma‘op ini ternyata tidak hanya ada dalam dunia anak-anak. Melainkan juga dapat ditemukan dalam dunia perpolitikan sepanjang sejarah kemanusiaan. Hal ini dapat dimaklumi karena memang dunia perpolitikan selalu dicirikan dengan suasana intimidasi, ancaman, munculnya tokoh-tokoh politik antagonis dan lain-lain. Kesan politik yang tidak bersahabat inilah yang dimaksudkan dalam tulisan ini sebagai politik ma‘op.

Dalam praktinya politik ma‘op ini identik dengan kesewenang-wenangan, intimidasi, memanfaatkan keluguan masyarakat dan prilaku lain yang mengangkangi semangat demokrasi. Perpolitikan ala ma‘op ini juga pernah muncul dalam sejarah perkembangan teologi Islam. Dulu dikenal sebuah aliran yang cukup mengancam eksistensi aliran lain, mereka ini adalah kelompok Khawarij.

Mereka tidak mengenal toleransi, tidak menerima perbedaan pendapat, menganggap merekalah pembawa kebenaran sejati. Yang lebih ironi adalah mereka sering melegitimasi prilaku intimidasi mereka dengan mengatasnamakan agama. Kini kelompok Khawarij ini hanya menjadi catatan sejarah dan eksistensi mereka terbenam bersama kekejaman mereka.

Dalam sejarah perpolitikan dunia praktik politik ma‘op ini juga oleh tokoh politik antagonis semisal Hitler, Mussolini, Jendral Franco. Mereka telah memanfatkan rakyat untuk ambisi politik.

Panggung politik ma‘op yang telah mereka mainkan, kini telah menjadi puing-puing sejarah. Tidak pernah ada sebuah kekuasaan yang bangun di atas kesengsaraan rakyat yang bisa bertahan lama, pelan namun pasti model politik ma‘op ini hanya bertahan dalam buku-buku sejarah. Nama-nama mereka akan dikenang sebagai penjahat politik dan bahkan kuburan mereka terkadang harus disembunyikan dari pengetahuan publik, karena ditakutkan akan dijadikan objek amuk massa atau dijadikan sebagai munumen kejahatan.

Sebaliknya perpolitikan yang diasakan pada nilai kemanusian, keadilan dan kesejahteraan rakyak akan lebih langgeng. Pemimpin penggerak ini akan dicatat dengan tinta emas sebagai pejuang berjasa, pahlawan kebenaran. Pusara mereka akan dikunjungi sebagai objek destinasi yang agung dan doa-doa akan mengalir ke pemiliknya. Mereka telah jauh di alam sana, namun selalu hadir dalam kenangan indah rakyatnya.

Noda politik
Politik ma‘op ini telah lama ditinggal sering dengan perkembangan peradaban manusia, meskipun riak dan tempiasnya terkadang juga hadir. Tapi manusia normal selalu akan menilainya sebagai sebuah noda politik, yang semua kita bertanggung jawab meminimalir peluangnya.

Menjelang pelaksanaan pilkada Aceh, mudah-mudah panggung politik ma‘op ini tidak terjadi di Aceh. Sebab, tentunya, semua peran politik yang dilakonkan oleh pemimpin Aceh dulu, kini dan akan datang semua demi kebaikan masyarakat Aceh. Mereka adalah sosok yang paling tahu bahwa masyarakat Aceh adalah komunitas yang perlu mereka lindungi dan mereka sejahterakan.

Mereka juga adalah orang Islam yang ingin dikenang sebagai pemimpin kebanggaan masyarakat yang selalu didoakan keselamatannya. Bukannya pemimpin yang dikenang karena kejahatannya atau malah dikutuk hingga ke alam kubur. Nauzubillahi min zalik. Wallahu’alam bishawab.

* Dr. Lukman Hakim A. Wahab, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Peneliti Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh. Email: loekman_af@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved