Saluran Irigasi Rusak Parah

Sejumlah infrastrukstur pertanian di Kecamatan Tangse yang selama ini dikenal

Saluran Irigasi Rusak Parah

* Petani Tangse Gagal Tanam

SIGLI - Sejumlah infrastrukstur pertanian di Kecamatan Tangse yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil beras berkualitas, ternyata banyak yang rusak. Hal ini membuktikan bahwa program ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah, baru sebatas seremonial, dan belum mampu mengatasi persoalan mendasar yang dihadapi petani.

Camat Tangse, M Jafar, melaporkan sepanjang tiga kilometer saluran irigasi di Gampong Peunalom Dua, Kecamatan Tangse, Pidie, patah sejak beberapa tahun lalu dan hingga kini tak ada upaya untuk memerbaikinya. “Petani di Peunalom Dua sering gagal tanam karena minimnya suplai air dari irigasi, akibat saluran air yang patah sejak lama, tak diperbaiki hingga kini,” ujarnya.

Menurutnya, saluran air ini patah karena tidak ada pemeliharaan terhadap infrastruktur yang sudah tua itu. Imbasnya, petani di Tangse sulit memperoleh air saat tiba jadwal musim tanam. Padahal, saluran air ini merupakan sarana penting bagi petani.

Selain di Gampong Peunalom Dua, irigasi di Kuala Badok Ranto Panyang yang menyuplai air hingga ke Blang Dhot dan Blang Teungoh, juga rusak parah. Sehingga, sekitar delapan hektare sawah di daerah tersebut, sering mengalami kekeringan. Infrasruktur yang rusak ini harus segera ditangani, mengingat tingginya kebutuhan petani terhadap pengairan sawah mereka.

Pemerintah melalui dinas terkait sering menyalahkan petani karena tak melakukan tanam padi secara serentak. Padahal penanaman padi yang tak serentak di Tangse ini terjadi karena petani kesulitan memeroleh air irigasi, dan hanya bergantung pada curah hujan.

Atas kondisi ini, ia meminta pemerintah melalui instansi terkait memerhatikan kebutuhan infrastruktur bagi petani. Sebelum mereka mengalihfungsikan lahan pertanian yang mereka miliki, hanya karena sawahnya sering kekeringan akibat tak ada air.

Camat Tangse, M Jafar, juga melaporkan bahwa dari 28 gampong di Kecamatan Tangse, satu gampong yakni Blang Pandak hingga kini belum berstatus definitif. Hal ini membuat gampong tersebut tidak mendapat Alokasi Dana Gampong (ADG) seperti gampong-gampong lainnya.

Hal itu membuat gampong ini sulit bangkit menuju kemandirian. Padahal, gampong ini memiliki potensi besar di bidang pertanian dan perkebunan.

Perjuangan untuk mendefinitifkan gampong ini sudah dilakukan sejak lama. Namun prosesnya sangat lamban. Sehingga menghambat laju pembangunan di gampong tersebut. “Nomor induk Gampong Blang Pandak telah turun berkat perjuangan bersama. Tapi hinga kini saya belum tahu kapan gampong tersebut diresmikan statusnya menjadi definitif,” katanya.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved