Petani Pidie Hadapi Banyak Masalah

Rapat koordinasi turun ke sawah yang digelar Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Pidie, Senin (17/10)

Petani Pidie Hadapi Banyak Masalah
KEPALA Dinas Pengairan Aceh, Ir Syamsurizal menjelaskan kondisi waduk saat berada di Waduk Rajui, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, Sabtu (11/7). 

* Irigasi Rusak, Debit Air Kurang, Pupuk tak Cukup

SIGLI - Rapat koordinasi turun ke sawah yang digelar Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Pidie, Senin (17/10) mengungkapkan bahwa petani di kabupaten yang terkenal sebagai lumbung padi ini, ternyata harus menghadapi banyak masalah.

Mulai dari saluran irigasi yang rusak, debit air irigasi yang minim, hingga ketersediaan pupuk yang tak mencukupi. Sehingga tak heran banyak petani yang terus hidup dalam kemiskinan.

Saluran air yang rusak antara lain, di Gampong Peunalom Dua, Kecamatan Tangse, yang patah sejak beberapa tahun lalu dan tak diperbaiki hingga saat ini. Selain itu, irigasi di Kuala Badok Ranto Panyang yang juga rusak parah. Sehingga, sawah di Blang Dhot dan Blang Teungoh, sering mengalami kekeringan. Sementara, Waduk Rajui yang diharapkan bisa membantu pengairan sawah khususnya di sekitar Kecamatan Padang Tiji, juga belum berfungsi akibat belum adanya saluran air ke persawahan.

Masalah lainnya, kuota pupuk subsidi untuk Pidie juga tidak sebanding dengan kebutuhan petani (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Kurangnya ketersediaan pupuk sudah sejak lama dikeluhkan petani. Karena saat benih padi sudah disemai, kebutuhan pupuk menjadi prioritas dan mereka tetap harus membelinya meski dengan harga yang mahal. Hal ini pun menjadi kesempatan bagi pihak-pihak yang ingin mengambil untung besar, dengan menimbun stok pupuk untuk kemudian dijual dengan harga tinggi.

Jelang MTR
Dalam dua bulan ke depan, petani kembali memasuki musim tanam rendengan (MTR) yang dimulai 15 Desember 2016. Sementara, banyak infrastruktur yang rusak parah. Sehingga program pemerintah untuk memberdayakan petani, malah terfokus pada pengadaan alat-alat pertanian. Sementara kebutuhan pokok untuk persawahan seperti air dan pupuk malah terabaikan.

“Kondisi bangunan irigasi saat ini sangat memprihatinkan. Masih banyak saluran sekunder dan tersier yang rusak, belum diperbaiki secara permanen. Padahal kita berharap air dapat mencukupi untuk musim tanam rendengan tahun ini,” kata Kepala Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Pidie, T Sabirin SH MSi.

Sementara, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pidie, Zulkifli ST menambahkan, selain banyaknya irigasi yang rusak, debit air dari Krueng Tiro dan Krueng Baro, saat ini juga sangat rendah. Sehingga dikhawatirkan air tidak cukup dialiri ke persawahan.

Padahal areal persawahan produktif di Kabupaten Pidie mencapai 29 ribu hektare lebih. Akibat banyaknya infrastruktur yang rusak, petani pun hanya bisa berharap hujan yang turun selama empat bulan ke depan bisa membantu pengairan sawah mereka.(aya)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved