Australia Apresiasi Syariat Islam di Aceh

Wakil Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia, Dr Justin Lee mengaku terharu dan memberi

Australia Apresiasi Syariat Islam di Aceh
Petugas WH kota Lhokseumawe, memakaikan kain sarung dan menasehati bagi kaum wanita yang melanggar syariat Islam di depan taman Riyadhah kota setempat. SERAMBI/ZAKI MUBARAK 

BANDA ACEH - Wakil Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia, Dr Justin Lee mengaku terharu dan memberi apresiasi yang tinggi terhadap pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Hal itu disampaikan Lee setelah mendengar penjelasan Kadis Syariat Islam Aceh, Prof Dr H Syahrizal Abbas MA tentang pelaksanaan syariat Islam di Aceh dalam pertemuan di kantor dinas tersebut, Rabu (19/10).

Pertemuan Justin Lee ke Dinas Syariat Islam Aceh merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kementerian Luar Negeri Australia ke Aceh. Dalam pertemuan itu, Prof Syarizal didampingi stafnya, Ridwan Johan, Nizami Taufik, Nasruddin, dan Muhammad Amin.

Lee juga mengatakan, dirinya sangat puas dengan penjelasan Kadis Syariat Islam. Sebab, menurut Lee, selama ini pihaknya kurang mendapat informasi yang benar tentang penerapan syariat Islam di Aceh.

“Banyak pihak di luar salah memahami syariat Islam yang berlaku di Aceh. Apa yang informasikan ke luar tenyata sangat jauh berbeda dengan penjelasan pejabat yang berwenang menangani masalah syariat Islam,” ungkap Lee seperti yang disampaikan kembali dalam rilis dari Dinas Syariat Islam Aceh kepada Serambi, Rabu (19/10) sore.

Karena itu, Lee mengajak pihak luar yang ingin mendapatkan informasi yang cukup dan benar tentang syariat Islam di Aceh, agara berkomunikasi langsung dengan Dinas Syariat Islam dan jangan dengan pihak lain. Lee juga menyampaikan terima kasih kepada Prof Syahrizal yang sudah menjelaskan tentang penerapan syariat Islam di Aceh secara detail. “Ke depan kami akan terus membangun komunikasi yang efektif dengan dinas syariat Islam agar berita yang disajikan benar-benar sesuai fakta dan sudah dikonfirmasi ke Dinas Syariat Islam Aceh,” ungkap Lee.

Ditambahkan, selama ini pihaknya mendapat informasi dari media asing yang berkerja di Aceh bahwa penerapan syariat Islam merupakan penyiksaan terhadap masyarakat. “Tapi, setelah kami berkunjung ke Dinas Syariat Islam Aceh, informasi yang berkembang di luar itu benar-benar keliru dan dapat memperburuk situasi. Kami benar-benar salah jika terlalu percaya kepada media asing yang sengaja memberitakan informasi yang tidak baik, tanpa mengkonfirmasi pihak yang berwenang menangani syariat Islam,” pungkasnya.

Kadis Syariat Islam Aceh, Prof Dr H Syarizal Abbas MA mengatakan, kedatangan delegasi khusus Australia itu terkait kebebasan beragama yang kaitannya dengan penerapan syariat Islam di Aceh.

Menurutnya, Kemenlu Australia benar-benar ingin mendapat Informasi yang lengkap dan benar tentang penerapan Syariat Islam di Aceh terutama bagi warga nonmuslim. Sebab, lanjut Syahrizal, selama ini pihak luar selalu menkampanyekan bahwa syariat Islam di Aceh melanggar HAM.

Padahal, kata Prof Syahrizal lagi, jika dipahami dengan seksama justru syariat Islam yang memberi perlindungan lebih terhadap kebebasan beragama. Guru Besar UIN Ar-Raniry menambahkan, kehadiran Wakil Dubes Australia ke Dinas Syariat Islam Aceh merupakan bukti bahwa syariat Islam yang diberlakukan di Aceh tidak tertutup, moderat, dan diterima oleh semua pihak.

“Kita berharap masyarakat juga melakukan roadshow dengan benar, sehingga informasi tentang syariat Islam ke luar akan bagus, tidak seperti selama ini dimna kita berbuat baik justru diinformasikan tidak baik,” jelas Prof Syahrizal Abbas.(re/jal)

Editor: bakri
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved