Pameran Foto di Peutjut Kerkhof, Ajak Pengunjung Menengok Aceh Tempo Dulu

Pameran foto yang digelar mulai 18 Oktober - 10 November 2016 itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

Pameran Foto di Peutjut Kerkhof, Ajak Pengunjung Menengok Aceh Tempo Dulu
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Peutjut Kerkhof ini merupakan makam militer terbesar Belanda di Indonesia (Hindia Belanda). Kompleks kuburan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 2.000 lebih pasukan Marsose yang dibunuh para pejuang dalam peperangan panjang Aceh dengan Belanda. 

Laporan Nurul Hayati | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mengangkat tema `Atjeh looking back', pameran foto yang mengambil tempat di Peutjut Kerkhof, Banda Aceh mengajak pengunjung menengok Aceh tempo dulu.

Pameran foto yang digelar mulai 18 Oktober - 10 November 2016 itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

Kerkhof5

Memamerkan koleksi foto Balai Pelestarian dan Nilai Budaya Aceh (BPNBA), Peutjut Kerkhof, dan foto dari Negeri Belanda, pengunjung akan menyaksikan tokoh-tokoh yang dianggap pahlawan bagi masing-masing bangsa.

Peutjut Kerkhof sendiri merupakan makam militer terbesar Belanda di Indonesia.

Tempat pengistirahatan terakhir bagi 2.000 lebih marsose.

Belanda juga harus merelakan empat jenderalnya tewas tatkala perang Aceh bergolak.

Ya, perang Aceh menyisakan pengalaman paling perih di pihak penjajah.

Kerkhof2

"Itulah alasan kami memilih Peutjut Kerkhof sebagai tempat pameran foto. Ini merupakan pameran yang sifatnya edukatif dan koleksi yang dipamerkan akan diganti setiap pekannya," terang peneliti dari BPNBA, Nasrul Hamdani yang juga bertindak sebagai pemandu pameran kepada Serambinews.com.

Pembukaan pameran diisi dengan dialog kesejarahan yang menghadirkan sejarawan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Drs Rusdi Sufi yang juga perwakilan Stichting Peutjut Fond.

Pameran foto tersebut memajang tokoh-tokoh besar di pihak Aceh dan Belanda yang gugur ketika perang Aceh bergolak.

Kerkhof3

Sebut saja Teuku Umar dan Jenderal Kohler.

Usai tsunami akhir 2014, 50-an palang salib lenyap disapu badai.

Namun, hingga kini kondisi makam yang letaknya menempel persis di samping Museum Tsunami masih terawat baik.

Nama-nama dan kisah morsase yang tewas tertulis lengkap.

Ditulis dalam Belanda, Arab-Melayu, dan Inggris.

Dengan desain yang unik di atas marmar.

Kerkhof4

Pemerintah Kerajaan Belanda terharu dan menghargai warga Banda Aceh yang merawat rapi kompleks makam tersebut.

Mengunjungi pameran foto yang mendokumentasikan sejarah di tempat yang bersejarah, tak ubahnya memasuki labirin waktu.

Tapi bukankah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah?

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved