Produksi Sawit di Aceh Menurun

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Sabri Basyah, mengatakan

Produksi Sawit di Aceh Menurun
SERAMBI/SARI MULIYASNO 

BANDA ACEH - Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Sabri Basyah, mengatakan produksi kelapa sawit di Aceh menurun dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya, hal ini karena kurangnya dukungan pemerintah daerah untuk sektor perkebunan ini dan adanya anggapan sawit sebagai tanaman perusak lingkungan.

“Padahal sawit ini tidak merusak, dan di perusahaan perkebunan bisa menampung banyak tenaga kerja,” kata Sabri kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (20/10) malam jelang pra-Rakernas Rakernas GAPKI. Pra-Rakernas dilaksanakan kemarin di Hotel The Pade, Banda Aceh.

Ia menjelaskan, produksi sawit Aceh saat ini hanya 700.000-800.000 ton per tahun. Dia berharap pemerintah daerah mendukung peningkatan produksi sawit Aceh, agar sektor perkebunan ini dapat juga mendorong perekonomian daerah. “Itu yang tahun lalu, untuk tahun ini turun lagi. Untuk sektor kelapa sawit, Aceh tertinggal, karena produktivitasnya tertinggal,” ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono mengatakan ekspor atau permintaan pasar global terhadap minyak sawit (CPO) terus meningkat, sehingga stok minyak sawit Indonesia semakin menipis. Permintaan terbesar datang dari India, Cina, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, terhitung sejak Agustus, stok minyak sawit turun 11 persen dibandingkan Juli 2016 dengan rincian 1,88 juta ton pada Juli menjadi 1,695 juta ton pada Agustus 2016. “Pada Agustus ini produksi minyak sawit Indonesia tercatat sebesar 2,98 juta ton atau naik 7 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 2,78 juta ton,” kata Joko.

Joko menyebutkan kenaikan permintaan paling signifikan secara persentase dibukukan oleh Amerika Serikat yaitu sebesar 183 persen atau dari 47,73 ribu ton di Juli melambung menjadi 135,15 ribu ton di Agustus. Sebaliknya, tambahnya, negara-negara Afrika dan Timur Tengah membukukan penurunan masing-masing sebesar 43 persen dan 37 persen.

“Harga CPO sepanjang Agustus bergerak di kisaran US$ 645-780 per metrik ton. Menipisnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menimbulkan reaksi kenaikan harga karena para traders mulai mengadakan aksi beli sebelum harga semakin meninggi. Alhasil, harga minyak sawit global terkerek sepanjang September dan bergerak dikisaran US$ 740-795 per metrik ton,” katanya. (mas)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved